Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Renungan Kristen: Bahan Khotbah Minggu Sengsara Ke-5 Yeheskiel 33 : 1-33

Sabtu, 20 Maret 2021 | 15.27 WIB Last Updated 2021-03-20T08:27:24Z

 

Gambar Ilustrasi


Saudara-saudara, yang Kekasih didalam Yesus Kristus


Kita semua tidak menghendaki datangnya berita buruk. Apalagi berita itu bersangkut paut dengan kehidupan kita. 


Semua kita tentulah menghendaki berita baik, karena sesungguhnya kita menghendaki kebaikan selalu mengiringi langkah hidup ini.


Orang Israel pernah didatangi oleh berita buruk. Suatu nubuatan yang dibawa Nabi Yehezkiel kepada mereka. 


Nubuatan yang diterima amat langsung berhubungan dengan keadaan mereka. 


Berita ini datang dari Tuhan dan diperdengarkan ketika mereka sedang mengalami keadaan yang buruk. 


Mereka mengalami penghukuman Tuhan; sebagian diangkut ke tempat pembuangan di Babel, 


sebagian  tetap tinggal di Israel. Nabi Yehezkiel, termasuk yang dibuang ke Babel. 


Apakah pembuangan dapat “menyadarkan” mereka?  Rupa-rupanya tidak! Mereka yang terisisa di Yerusalem, 


justeru merasa layak menempati lagi tanah Israel karena Abraham sendiri, yang seorang diri, 


diberi kesempatan tinggal di tempat yang luas begitu, apalagi mereka? 


Jadinya mereka merasa ”berhak” atas sesuatu yang sudah bukan milik mereka. 


Sementara tinggal, berbagai macam dosa dilakukan. Antaranya, mencondongkan hati pada berhala-berhala serta mengikuti gaya kehidupan kafir. 


Moralitas mereka juga ambruk, orang seenaknya mengambil yang bukan isterinya, mengandalkan ”pedang” dalam penyelesaian masalah dsb. 


Akibatnya Tuhan masih akan mendatangkan hukuman! Bila Ia menghukum maka tidak ada perlindungan yang cukup kuat menahan penghukuman itu. Bahkan yang coba-coba berlindung di gua-pun tidak akan luput. 


Bagaimana dengan orang-orang yang diangkut ke Babel bersama Yehezkiel. 


Orang Israel di sana sama saja! Penghukuman belum mendekatkan hati mereka kepada Tuhan Allah. 


Firman yang diberitakan oleh nabi, seakan dianggap angin lalu saja. Benar bahwa mereka suka memperbincangkan Yehezkiel, 


juga senang dengan pemberitaannya, namun, semua itu hanya sekedar dianggap ”hiburan telinga” saja. Ay 32 berkata: Sungguh, 


engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; 


mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya.


Bacaan ini memberikan kita pedoman kepada siapa hidup selalu mesti dicondongkan, yakni kepada Tuhan. 


Nyata dari firman dalam ay 29: ”Dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan...” Keadaan boleh berubah, dunia boleh berkembang, 


tapi Dia tetap Tuhan.  Kehidupan Israel mengajarkan kepada kita bahwa keadaan bisa merubah orang, termasuk hal percaya kepada Tuhan.


Kepada kita yang telah percaya kepada Allah di dalam Yesus Kristus, tentunya diajak pula untuk selalu ”peka” 


akan kehadiran-Nya serta kehendak-kehendak-Nya bagi saya dan saudara-saudara. Ini menjadi panggilan supaya kita peduli terhadap ”kepedulian” Tuhan.


Kita mendapati di sini bahwa Tuhan peduli pada kehidupan yang penuh kasih, keadilan serta kritis dengan keadaan di luar kita. 


Lainnya yang tak kalah penting, Ia menghendaki pembaruan hidup yang terus-menerus.


Bila ini dihubungkan dengan penghayatan minggu sengsara Yesus Kristus, 


saya kira yang layak direnungkan adalah apa-apa saja yang belum kita wujudkan selaku orang percaya. 


Hal-hal yang sebenarnya perlu kita tangisi. 


Lukas 23:28 mencatat bagaimana sikap Yesus terhadap orang-orang yang mengikuti Dia ketika Ia memikul salib. Dicatat, 


Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: "Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!


Sambil menghayati Dia yang sengsara bagi saya dan saudara, jelaslah, bahwa kita mesti menangisi diri kita yang ”memikul” berbagai persoalan hidup. 


Kita sedang dan bergumul dengan rupa-rupa keadaan kita sendiri, termasuk wabah penyakit yang tak kunjung berhenti menerpa dunia dan manusia.


Kita juga senantiasa mengjhadapi tekanan-tekanan yang menyulitkan, menggentarkan, menguatirkan tetapi bersama Yesus jika ada dalam kesungguhan maka pasti dan pasti tekanan tersebut mampu kita atasi dengan mudah.


Secara positif, iman percaya kita makin ditantang. Daya juang dan daya kreatif kita diasah. agar ditengah pandemi seperti saat ini kita mampu bertahan.


Pengalamn sulit justeru memberi dampak yang baik, dalam iman dan dalam pengelolaan hidup lihatlah seberapa beruntungnya kita masih bisa beraktivitas, sehat, makan, tidur sementara ditempat lain meringis dengan berbagai penderitaan.


Kenapa orang percaya tetap bertahan hingga hari ini, karena Yesus Kristus ada diseluruh hidup kita walaupun kita ada dalam penghayatan minggu-minggu sengsara menderita pikul Salib


Tetap sesungguhnya kita tidak memikul salib sendiri, sebab Ia selalu hadir menguatkan. 

Matius 11:29-30


”Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. 


Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." Amin)


Penyusun : Pdt.Hesky Manus M.Th


×
Berita Terbaru Update