Headline

thumbnail

By On November 19, 2020

 

Anak jembatan tambatan perahu taxi Batulubang rusak parah foto FB Unchu Tolly

Bidikdotcom Jembatan ruko Kelurahan Pateten merupakan aset masyarakat Kota Bitung khususnya yang bermukim di Pulau Lembeh. Apa jadinya bila area penyeberangan menghubungkan antara Lembeh dan daratan Kota Bitung ini terjadi kerusakan cukup memprihatinkan dan pastinya juga akan berpengaruh terhadap roda ekonomi masyarakat menggunakannya apalagi para pemilik perahu taxi.

Kerusakan dua anak jembatan ruko ini yakni tempat tambatan perahu taxi asal Kelurahan Pintukota, Kareko dan Batukota, belum tersentuh perbaikan oleh pihak yang bertanggung jawab. sama halnya dengan tempat tambatan perahu taxi dari Kelurahan Batulubang dan Paudean hingga kini tidak ada pihak yang menggubrisnya untuk melakukan perbaikan. Padahal retribusi pengguna area jembatan ruko sering di setor kepada petugas perhubungan di pos kontrol ruko.

Baca Juga : 4 Orang Korban Akibat Ambruknya Jembatan Ruko Pateten

Kini atas kesadaran bersama masyarakat pengguna area ini khususnya warga Pulau Lembeh di inisiasi oleh Christianto Janis warga asli Kelurahan Batulubang menggagas masyarakat berpartisipasi untuk perbaikan anak jembatan yang rusak tersebut. Alhasil dari semangat gotong royong itu aliran sumbangan pun berdatangan dari berbagai kalangan baik personal maupun perusahaan dimana merasa sepenanggungan dengan warga Pulau Lembeh.

Sumbangan terdiri dari bahan material bangunan dan beberapa pundi rupiah di berikan para donatur untuk menunjang perbaikan jembatan tersebut. Penggagas kerja perbaikan anak jembatan Christianto Janis mengatakan bahwa pembangunan akan dimulai pada Senin 23/11/2020 sambil berharap masih ada perhatian bantuan dari warga Lembeh sendiri untuk penyelesaian pekerjaan.

Sejak awal tahun 2020 kondisi anak jembatan tempat tambatan perahu taxi Batulubang sudah menunjukan tanda-tanda kerusakan dan akhirnya ambruk pada bulan April lalu.

Kerusakan ini sudah di publikasikan oleh beberapa warga Pulau Lembeh lewat sosial media tetapi tidak ada satu pun pihak yang merasa simpatik dengan kerusakan anak jembatan tersebut, meski pada akhirnya masyarakat Lembeh sendiri yang harus memperbaikinya.

Memang akan membahayakan para pengguna anak jembatan saat ini sebagai tambatan perahu taxi Papusungan dimana perahu taxi serta penumpang dari Batulubang juga menggunakannya sebab tidak mungkin lebar jembatan hanya sekitar 2 meter itu menampung motor yang pergi maupun akan kembali ditambah dengan penumpang yang lalu lalang, 

Sehingga secepatnya perbaikan jembatan diarea taxi Batulubang diselesaikan agar tidak terjadi kemacetan diarea anak jembatan Papusungan dan pada akhirnya karena bersesakan bisa saja ada penumpang yang jatuh ke laut atau motor.

Beberapa warga yang kami tanyakan perihal perbaikan pembangunan jembatan itu mengakui sangat senang supaya anak jembatan Papusungan tidak berdesak-desakan baik penumpang yang turun maupun yang naik untuk kembali ke Lembeh. dan mereka juga sebagai donatur meski pemberiannya hanya kecil tetapi jika di kumpulkan akan bisa membantu pembangunan jembatan tersebut.

Alasan perbaikan jembatan tersebut bukan hanya sebagai bentuk keprihatinan tetapi bagaimana melihat kondisi roda ekonomi masyarakat Lembeh yang cukup berkembang apalagi menjelang Natal dan Tahun Baru tinggal menghitung hari sudah adi di bulan Desember pasti manusia akan berdesakan memenuhi area pertokoan ruko Pateten dan apa jadinya jika salah satu anak jembatan tidak berfungsi karena rusak.

Baca Juga : Debat Publik Tahap III Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut

Anak jembatan ruko yang butuh perhatian perbaikan adalah area tambatan perahu dari Kelurahan Pintukota, Batuwoka dan Kareko sebab bagian ujungnya sudah cukup miring dan sangat membahayakan para pengguna di tambah dengan beban bongkar muat kopra dan material bangunan lainnya dimana sangat berbahaya jika tidak di perhatikan sejak dini.

thumbnail

By On November 17, 2020

 

Debat pasangan calon Gubernur dan Wakil gubernur Sulut 17/11/2020 gambar bidikdot

Bidikdotcom Debat Pilkada tahap tiga calon Gubernur dan wakil Gubernur pada Selasa 17/11/2020 berlangsung seru jual beli ide gagasan tersaji dalam debat kali ini dan hampir bisa dimainkan dengan baik oleh ketiga pasangan calon. Acara debat publik tersebut di mulai pad pukul 20.00 - 22.00 wita yang di siarkan secara langsung oleh Kompas TV yang di hadiri oleh Komisioner KPU dan undangan.

Berbeda dengan debat  satu dan debat kedua memakai tema debat, namun kali ini pembawa acara langsung menyodorkan pertanyaan yang telah di siapkan KPU Provinsi Sulawesi Utara dalam bentuk sampul yang masih tersegel. Mendapat pertanyaan pertama adalah pasangan calon nomor urut 1 yakni Christiani Eugenia Paruntu dan Sehan Salim Landjar.

Baca Juga : Joe Biden Menang Pemilu Presiden Amerika, Ini Kata Trump

Sesi pertama berjalan sedikit santai karena pertanyaan langsung dari moderator acara yang di pandu oleh Liviana Charlisa tetapi memasuki sesi tanya jawab antar pasangan calon  suasana debat sedikit berubah pada lebih berani dan terlihat pasangan nomor urut 2  Calon Gubernur Voni Aneke Panambunan sedikit beraksi atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Calon Wakil Gubernur nomor urut 3

Steven Kandow sebagai Calon Wakil Gubernur yang di usung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan 5 partai pendukung lainnya memberi pertanyaan tentang bagaimana menghadapi polemik dalam pemerintahan dan mengatasinya seputar Kepala Satuan Perangkat Daerah (SKPD) yang terjaring korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

Mengingat di Minahasa Utara ada Kepala Dinas yang tersangkut korupsi demikian juga di Kabupaten Minahasa Selatan ada 8 SKPD yang tersangkut korupsi Steven Kandow menanyakan bagaimana solusinya jika terpilih sebagai Gubernur nanti.

Calon Gubernur nomor urut 1 dengan luwes menjawab bahwa akan melakukan semua kontrol terhadap pengelolaan uang bagi Kepala-kepala SKPD yang langsung terhubung dalam pengelolaan keuangan daerah. Tetapi berbeda dengan Calon Gubernur nomor urut 2 Voni Panambunan sedikit berapi-api berkata "itu depe bodok sandiri sampe maso penjara" padahal saya sudah ingatkan ungkapnya.

Dan sedikit berbalik menyinggung kalimat dari Steven Kandow dengan berkata calon nomor 3 pe maksud apa fungsi Bupati saat itu sebagai Kepala Daerah di Minahasa Utara sampai tidak dapat melakukan kontrol terhadap SKPD yang di pimpinnya, luwes dengan dialek Manado.

Pertanyaan Steven Kandow lainnya yang menyita perhatian adalah kata "Konkuren" di lontarkan kepada pasangan calon nomor urut satu dan dua. Dan lebih siap menjawab pertanyaan dari pasangan calon nomor urut tiga adalah calon wakil Gubernur dari pasangan nomor urut satu yakni Sehan Salim Landjar. Penyampaian literasi dari Bupati Boltim ini cukup singkron dengan apa yang di tanyakan.

Namun menanggapi jawaban kedua pasangan calon Steven pun menjelaskan arti dari konkuren tersebut dimana hal itu merupakan urusan Pemerintahan pusat dan Daerah baik Provinsi dan Kabupaten Kota.Urusan Pemerintahan bersifat umum menjadi urusan dan tanggung jawab Presiden sedangkan wajib dan pilihan menjadi urusan Pemerintah daerah.

Memang di akui sebagai petahana Olly - Steven sedikit memiliki keunggulan dari kedua pasangan calon lainnya karena telah mmelakukan langkah pembangunan selama memimpin di Pemerintahan Provinsi Sulawesi Utara sanggahan tanggapan dalam bentuk pertanyaan yg terkesan menyerang dapat di jawab dengan leluasa oleh kedua petahana tersebut.

Acara debat benar-benar menerapkan protokol kesehatan yang cukup ketat sehingga hanya terlihat sekitar 15 orang penonton yang hadir termasuk Komisioner KPU Daerah Provinsi Sulawesi Utara.

Isu terangkat dalam debat kali ini masih seputar ekonomi bagaimana menanggulangi kemiskinan karena pengangguran di akibatkan Covid-19 serta meningkatnya kriminal pertanyaan ini di sodorkan oleh calon Wakil Gubernur dari pasangan nomor urut dua Hendri Runtuwene. Bukan hanya itu para calon di sodorkan bagaimana memaksimalkan ekonomi masyarakat pesisir dan pasangan nomor urut 2 dapat menjawab dengan baik pertanyaan dari pasangan calon nomor urut satu.

Baca Juga : Debat Pilwakot Bitung Angkat Isu THL Berijazah Sarjana Dan Pelecehan Warga 

Debat pun di tutup dengan pernyataan para calon Gubernur dan Wakil Gubernur kepada seluruh pendukung serta para pemilih untuk memilih pasangan calon sebagaimana visi dan misi kerja mereka  untuk mendantangkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Sulawesi Utara pada lima tahun mendatang yakni 2021-2026.(bdc)

thumbnail

By On November 08, 2020

 

Debat Pilkada Kota Bitung 8/11/2020 ilustrasi gambar bidikdot 

Bidikdotcom Sebulan menuju pemilihan kepala daerah serentak 9 Desember 2020 mendatang berbagai proses terus di genjot oleh pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU) hingga kedaerah-daerah termasuk Kota Bitung. Komisi Pemilihan Umum Kota Bitung melaksanakan debat pasangan calon walikota dan wakil walikota Bitung pada Minggu 08 November 2020 yang di mulai pada pukul 20.00 wita.

Ada yang menarik dari debat tersebut dimana salah satu paslon dianggap merendahkan kualitas masyarakat Pulau Lembeh terhadap pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) sehubungan dengan pengangkatan tenaga honorer atau dikenal dengan Tenaga Harian Lepas (THL) atau juga di panggil dengan tenaga kontrak.

Baca Juga : Benarkah 2021 Tenaga Kontrak Kota Bitung Berstandar Sarjana

Sehingga informasi ini langsung menjadi trending topik di sosial media dan juga menjadi bahan pergunjingan di dunia nyata. Debat yang tidak melibatkan liputan wartawan secara langsung di nilai para pengguna sosial media KPU Kota Bitung tidak fer terhadap publikasi bagi masyarakat umum meski dengan alasan menerapkan protokol kesehatan.

Orang Lembeh sendiri menyikapi hasil dari debat semalam dengan berbagai versi ada yang cuek, nyinyir bahkan ada membantah bahwa apa yang disampaikan oleh salah satu paslon tentang kualitas orang Lembeh hanya dari kacamata bahasan atau tema dalam debat tersebut.

Tentu bagi mereka dengan pemikiran rasional hal tersebut biasa-biasa saja namun bagi mereka yang tidak menerima apa disampaikan dalam debat tersebut pasti sebuah kesalahan dan pelecehan.

Memang sejak memasuki masa kampanye pilkada Kota Bitung pada bulan September 2020 lalu  isu tentang THL berijazah sarjana menjadi perbincangan masyarakat dan para tenaga kontrak yang bekerja di lingkungan Pemerintahan Kota Bitung baik itu di Kelurahan, Kecamatan bahkan Kantor-Kantor Dinas Pemkot isu mengenai tenaga kontrak cukup ramai didebatkan.

Tidak diketahui dari mana asal isu tersebut beredar tiba-tiba ramai diperbincangkan dan terasa mereka yang tidak memiliki ijazah sarjana terancam dengan berita tersebut meski pun kebenarannya masih dalam tanda-tanya. Tetapi dalam debat paslon semalam isu tersebut terangkat kembali.

Sebetulnya polemik tentang orang Lembeh dalam mengakses yang namanya system digital dalam ITE diakui sangat minim dari keseluruhan masyarakat lembeh yang hampir 20 ribu jiwa ini paling-paling bila di presentasikan ada di angka 37-47% dan lebih besar para siswa dan mahasiswa dalam kategori kaum milenial selebihnya tidak bisa.

Bila ukurannya seperti yang dimaksudkan di atas ya masih bisa dipertimbangkan asal harus disertai dengan data lengkap tetapi jika hanya sekedar omong karena ingin memenuhi kuota elektabilitas itu kan namanya asal-asalan dan menyinggung.

Masing-masing paslon memiliki nilai positif dalam memaparkan programnya untuk kesejahteraan masyarakat Kota Bitung dalam pemilihan kepala daerah 9 Desember mendatang semua kembali kepada masyarakatnya mau pilih calon Pemerintah yang bagaimana itu bisa dilihat dalam program yang sudah disampaikan dalam debat semalam.

Bagi masyarakat Pulau Lembeh yang merasa tersakiti dengan pemaparan salah satu paslon silahkan menyampaikan aspirasinya kepada pihak KPU atau Bawaslu jika itu di nilai masuk sebuah pelanggaran etika dalam proses kampanye pemilihan kepala daerah sehingga pihak berwenang dapat memberi peringatan kepada yang bersangkutan.

Baca Juga : Pendidikan Politik Pilkada Bitung Dan Bagaimana Parpol Melaksanakannya

Tetapi perlu juga disadari oleh seluruh reponden paslon maupun paslon sendiri  bahwa menyampaikan itikad baik tidak harus membanding-bandingkan ini dan itu yang akhirnya menyakiti perasaan sesama dimana itu kemungkinan adalah pendukung sendiri mendengarkannya yang akhirnya mengurangi tingkat kepercayaan telah dibangung dalam rentang waktu lama. (bdc)


thumbnail

By On Oktober 30, 2020

 

Gambar ilustrasi salah satu calon gubernur Sulut Olly Dondokambey 
sumber : halaman group FB DEBAT SULUT 2020

Bidikdotcom Pemilihan serentak kepala daerah tinggal menyisihkan satu bulan lagi dari rencana KPU dalam pemilihan kepala daerah secara serentak pada 9 Desember 2020. Untuk Sulawesi Utara sendiri ada 5 calon Kepala Daerah ikut dalam pertarungan meraih kursi pemimpin 5 tahunan ini diantaranya Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut, Walikota dan Wakil Walikota Tomohon, Walikota dan Wakil Walikota Manado, Bupati dan Wakil Bupati Minahasa Utara serta Walikota dan Wakil Walikota Bitung.

Tentu dari kelima calon kepala daerah yang sudah disebutkan tadi memiliki program kerja unggulan siap ditawarkan bagi seluruh masyarakat diwilayah dimana menjadi tujuan dari para calon tersebut mendapatkan suara atau simpatik dari rakyat atas apa hendak mereka lakukan jika di ijinkan memimpin.

Baca Juga : Pendidikan Politik Pilkada Bitung Dan Bagaimana Parpol Melaksanakannya.

Tentu dari yang ditawarkan lewat program-program terhadap sebuah misi serta visi ingin dicapai memiliki nilai luhur dan mulia walaupun harus dicapai dengan proses penuh tantangan dan persoalan dan ini kemungkinan bicaranya nanti bukan sekarang.

Tetapi sangat disayangkan elegansi calon dan pasangan calon dalam memaparkan programnya sering dikacaukan oleh arus bawa atau bisa disebut para pendukung dan simpatisan calon. padahal apa yang disampaikan mereka baik calon/pasangan calon tim kampanye adalah pendapat mulia tidak perlu digoreng hingga gosong dan menimbulkan keresahan.

Hal inilah mewarnai proses jalannya kampanye pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara dimana sikap dan toleransi para pendukung tidak mencerminkan asas dari kewibawaan program dipaparkan calon mereka sehingga hujatan cacian dan saling geledek serta saling serang kelebihan dan kekurangan calon yang pada hakikatnya tidak perlu dilakukan.

Ini bukan hanya sekedar fenomena biasa dalam setiap pemilihan umum tetapi perlu ada tanda awas agar tidak terjadi hal-hal diluar jangkauan dari proses pemilihan sehingga menjadi perhatian khusus dari pelaksana dalam hal ini KPU untuk melakukan kontrol penggunaan media bersifat online maupun ofline yang menjurus pada tindakan hukum.

Catatan ini saya buat berawal dari sebuah media daring online berbasis media sosial dalam halaman group berjudul "DEBAT SULUT 2020" dimana beberepa responden entah itu pendukung paslon atau hanya sebatas simpatisan mengeluarkan pernyataan dalam bentuk cacian dan makian  terarah kepada salah satu paslon Gubernur dan Wakil Gubernur.(lihat screenshoot gambar) 



Sebagai masyarakat beradap seharusnya menyadari bagaimana memahami proses demokrasi dalam menyampaikan aspirasi atau harapan kepada mereka yang mencalonkan diri, atau jika ingin membantu mendongkrak elektabilitas dari calon yang diusung ada baiknya dengan perilaku-perilaku dan cara mengedukasi bukan sebaliknya saling menghina atau mencaci.

Seharusnya juga pembuat halaman group dapat mengarahkan para anggotanya untuk dapat berpendapat secara profesional dan proporsional dalam menyatakan pendapat lepas dari kelebihan dan kekurangan calon dan pasangan calon Gubernur sehingga tidak akan menimbulkan gesekan (inimage) baik pendukung maupun calon.

Sebab belajar dari pengalaman ada orang menganggap pemberitaan di sosial media adalah informasi final meskipun itu "hoax" bahkan ada tanpa menyaringnya atau melakukan cek dan ricek terhadap kebenaran sebuah pemberitaan langsung secara membabi buta melakukan tindakan anarkis.

Bahkan pihak penyedia layanan media tersebut yakni www.facebook.com  Indonesia tidak dapat melakukan kontrol dari sistem yang mereka jalankan padahal jelas-jelas ini sangat mengganggu kenyamanan seseorang atau publik lain dalam menyampaikan pendapatnya berhubungan dengan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur.

Okelah jika kita memang pendukung berat dari paslon tertentu wajib secara militansi untuk berjuang memenangkan bersangkutan dari kompetisi pilkada. Bukan berarti merugikan kompetitor lainnya dengan mengedarkan pernyataan-pernyataan tak wajar soal kepribadian paslon.

Bila ada petahana yang mencalonkan diri sebagai kepala daerah lagi, terus dari kepemimpinannya kurang masuk hitungan kita wajar kita kritisi tentu dengan sikap dan pernyataan kostruktif bukan destruktif atau merusak sehingga memancing perilaku pendukung pasangan lain yang jika tidak dibijaki pasti akan menjurus pada tindakan kejahatan.

Coba kita lihat pertarungan antara Donald Trump dan Joe Biden dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat meski cukup "memanas" baik serangan dari Trump maupun Biden tetapi kedua tokoh tersebut tetap bersikap elegan dan profesional bahkan para pendukung mereka tidak ada hujatan satu pun menjelek-jelekan kekurangan dan kelebihan para calonnya.

Tetapi jualan program yang sarat ide serta gagasan ikut dikampanyekan oleh para pendukung maupun simpatisan dari media sosial sehingga meski di tengah persaingan untuk mendapatkan kursi pemimpin terlihat cara-cara kampanye mengedukasi diterapkan di Amerika tanpa ada yang dirugikan.

Lantas apakah kita akan katakan berbeda atau sama dengan cara demokrasi pemilihan presiden Amerika Serikat? tentu tidak tetapi para pendukung dan simpatisan calon Gubernur dan Wakil Gubernur dapat meniru gaya yang mengedukasi dari proses terjadi di Amerika tersebut.

Baca Juga : Kecintaan Milenial Terhadap Budaya Sendiri di Hari Sumpah Pemuda

Menjadi juga tanggung jawab partai politik bagaimana menggiring pendukung agar menjalankan proses pemilihan umum dengan etika politik dalam alam demokrasi Indonesia sebagaimana tertuang dalam UU Partai Politik No 2 Tahun 2008 sehingga apa yang disampaikan dalam bahasan ini kedepannya tidak terjadi lagi.(ined)


loading...

thumbnail

By On Oktober 28, 2020

 

Para milenial pembantu Presiden gambar sekneg edit by bidikdot

Bidikdotcom  Sumpah Pemuda yang diikrarkan oleh para pemuda-pemudi Indonesia 28 Oktober 1928 merupakan komitmen mereka terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di bawa penjajahan Jepang dan Belanda para anak muda tanah air tetap mengakui bahwa tanah air dan tumpah darahnya adalah Indonesia meskipun mereka bersekolah dari dunia pendidikan milik penjajah.

Rasa kebangsaan yang tinggi dalam mengakui Indonesia sebagai negerinya para pemuda tanah air menyatakan bahwa tidak ada negara, bahasa dan idiologi lain selain Indonesia. itulah sebabnya di hari sumpah pemuda tahun 1928 para anak muda diseluruh Indonesia menggaungkan pernyataan mereka kepada seluruh masyarakat untuk berjuang demi Indonesia tanpa alasan apapun.

Baca Juga : Menunggu Tanda Tangan Jokowi Sahkan UU Cipta Kerja 

Sejarah mencatat bahwa patriotik pemuda dalam membela bangsa dan negaranya dari penjajah adalah harga mati yang tak dapat di tawar-tawar walaupun mereka harus meregang nyawa. Euforia ini membuat Indonesia makin kuat untuk keluar dari tekanan para penjajah lewat hadirnya para anak muda dengan intelektual dapat di andalkan.

Nama-nama seperti Muhamad Yamin, Muhamad Hatta, adalah representasi para anak muda diseluruh Indonesia yang ingin negaranya aman dan merdeka dari penjajahan. Sehingga membuat mereka berjuang dengan gigih dari jalur diplomasi untuk mengeluarkan para penjajah dari Indonesia.

Dalam berbagai pertemuan seperti Konfrensi Meja Bundar (KMB) jebolan anak muda dalam negeri tersebut tidak pernah menyerah memperjuangkan hak-haknya meski mereka harus dikhianati penjajah atas kesepakatan-kesepatan yang sudah di setujui.

Sumpah pemuda merupakan tolok ukur kepribadian para pemuda Indonesia dimana ingin bangsanya keluar dari penindasan para penjajah tanpa memandang latar belakang dari status agama, sosial maupun budaya. Sumpah pemuda masih tetap terpatriot hingga hari ini walaupun nilai luhurnya mulai tergeser oleh perilaku-perilaku anak muda yang tak bertanggung jawab.

Dari berbagai aksi demonstrasi hari ini di lakukan oleh mahasiswa yang mana mereka adalah para pemuda dan pemudi Indonesia tidak lagi mencerminkan nilai luhur dari Sumpah Pemuda itu sendiri sebab ada sebagian bersatu dalam tindakan anarkis, pengrusakan dan penjarahan dalam setiap aksi demo seperti terjadi terhadap penolakan UU Cipta Kerja.

Berikut isi dari ikrar Sumpah Pemuda 1928 :

Kami Putra-Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.

Kami Putra-Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Kami Putra-Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Jelas dan sangat bermakna bila isi sumpah pemuda di presentasikan dalam setiap aksi demonstrasi sebagai satu dalam pengakuan tanah, bangsa dan bahasa Indonesia. Bukan melakukan tindakan anarkis pengrusakan seakan-akan bukan ada didalam negeri sendiri.

Jadi pertanyaan bagaimana dengan rasa cinta terhadap budaya sendiri atas nilai mulia Sumpah Pemuda bagi kaum milenial jaman ini. diakui pergeseran budaya sosial mulai menggerogoti anak-anak muda masa kini atas perkembangan serta kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Kecenderungan anak muda melirik budaya sendiri dalam keragaman adat istiadat mulai menurun atas tawaran pasokan budaya barat dalam kehidupan pergaulan mereka dan memang itu lebih mendominasi ketimbang kecintaan mereka terhadap warisan budaya yang telah di wariskan para leluhur.

Bagaimana dengan Kota Bitung

Program pemerintah Kota Bitung tentang Pemberdayaan Masyarakat di seluruh wilayah Kecamatan dan Kelurahan 2019 lalu mendapat apresiasi dan perhatian masyarakat sebab disana terdapat berbagai pembinaan bahkan pelatihan-pelatihan untuk menjadikan masyarakat bisa mandiri lewat wira usaha.

Namun ada yang sangat menarik dari program pemberdayaan masyarakat ini yakni tentang pembinaan masyarakat untuk mengangkat kembali budaya daerah dan khusus bagi warga Nusa Utara. di ketahui bahwa budaya Nusa Utara (Sangihe) memiliki ciri khas tersendiri dalam setiap peran dan peragaannya.

Sebut saja Tarian Gunde, Nyanyian Tanggonggong, Empat Wayer, Masamper adalah khazana budaya dari kepulauan Sangihe yang hingga hari ini terus dikembangkan kegiatannya.

Namun terlihat dari kegiatan pemberdayaan masyarakat ini partisipasi anak muda Kota Bitung cukup menurun bahkan terlihat hanya orang tua bisa juga disebut mereka adalah generasi terakhir dari koleksi budaya Sangihe yang disebutkan diatas. Para pemuda kurang terlihat bahkan di beberapa kelurahan di Pulau Lembeh tidak ada satu anak muda pun terlibat.

Para pembimbing yang melaksanakan kegiatan ini yakni Amos Kakomba S.pd dan Max Galatang menyayangkan kurangnya peran para anak muda padahal itu merupakan budaya asli milik sendiri. Hanya di kelompok Masamper terlihat beberapa anak muda karena budaya satu ini berkenan dengan olah tarik suara selebihnya tidak ada.

Memang perlu adanya pendekatan-pendekatan sosial yang baik sehingga para anak muda di Kota Cakalang ini lebih antusias menerima budaya sendiri ketimbang budaya dari luar negeri. sehingga budaya-budaya seperti di sampaikan tadi khususnya dari Nusa Utara bisa bertahan meski ditengah budaya barat telah membuming.


Sumpah Pemuda tahun 1928 tidak hanya terikrar pada jaman tertentu saja namun nilainya dapat di lakukan oleh para pemuda milenial hingga ke sendi-sendi kehidupan pergaulannya hari ini maupun dimasa yang akan datang.(bdc)



thumbnail

By On Oktober 26, 2020

 

Calon Walikota dan Wakil Walikota Bitung gambar bidikdot

Bidikdotcom Pilkada Kota Bitung sementara berlangsung lewat proses kampanye dari ke tiga Paslon yang akan bertarung pada pemilihan 9 Desember mendatang. Tentu dari semua di paparkan oleh para calon Walikota dan Wakil Walikota  lewat program-program memiliki misi serta visi jelas dan bertujuan memberi kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Kota Bitung.

Sebagaimana bahasan kita, semua program dalam misi serta visi para calon di masa-masa kampanye ini apakah memiliki arti bahwa mereka juga sementara menjalankan edukasi kepada masyarakat bagaimana melihat pesta demokrasi sebagai wahana untuk kesejahteraan bersama atau tidak.

Baca Juga : Benarkah 2021 Tenaga Kontrak Kota Bitung Berstandar Sarjana

Ataukah paling utama trik memenangkan pilkada sehingga nilai-nilai mendidik terhadap masyarakat dalam pemahaman mereka tentang politik tidak perlu di perhatikan toh pada akhirnya jika terpilih masyarakatpun tidak akan mempersoalkannya sebab masa ini hanya berlaku pada lima tahunan.

Memang benar selesai memilih masyarakat pasti tidak akan mempersoalkannya karena siapapun terpilih adalah Walikota dan Wakil Walikota, Kota Bitung milik seluruh rakyat tanpa lagi melihat warna partai, perbedaan pandangan dan lain sebagainya. Tetapi meskikah di abaikan hal-hal menyanngkut pendidikan politik pada masyarakat selesai pada masa pemilu saja.

Undang-Undang tentang Partai Politik No 2 Tahun 2008 Pasal 2 no.4 poin (h) menyebut Pendidikan Politik. Demikian juga pada Pasal 10 BAB 5 tentang Tujuan dan Fungsi Partai Politik ayat 2 tentang tujuan khusus Partai Politik poin (c) dimana menyebutkan bahwa Membangun etika dan budaya politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menjadi pertanyaannya etika dan budaya politik model bagaimana dimaksud oleh isi perundangan ini yang seharusnya di bangun oleh para parpol sebagai peserta dalam setiap pemilihan umum termasuk pemilihan kepala daerah.

Sebab hingga hari ini persoalan etika dan budaya dalam politik masih menjadi polemik umum dimana saling menjatuhkan, mengejek, provokasi antar sesama paslon maupun dari simpatisan terus mewarnai perhelatan demokrasi tanah air yang ujung-ujungnya jika tidak di sikapi dengan bijak maka perseteruanlah akan terjadi bahkan lebih ekstrim dari yang di duga.

Etika dan budaya dalam berpolitik di masa-masa kampanye adalah hal patut untuk di terapkan dengan bijak oleh partai politik kepada simpatisan pendukung Paslon, para pengurus partai dan seluruh masyarakat yang akan ambil bagian dalam pesta demokrasi.

Namun sangat di sayangkan etika dan budaya dalam berpolitik apalagi seperti pemilIhan kepala daerah saat ini hanya sekedar di ucapkan dan terterah di atas aturan, maka sama saja tidak ada gunanya sebab jika itu seratus persen di jalankan oleh paslon tentu ada sudut pandang lain dirugikan.

Inilah kemudian menjadi jurus-jurus ampuh bidikan para paslon menjadikan "uang" sebagai senjata empuk meraup keuntugan suara dari paslon lainnya.

Uang disandingkan dengan pesta demokrasi (money politik) menurut beberapa orang adalah biasa sehingga ungkapan "ada uang ada suara" menjadi strategi jitu juga bagi para pemilih mendapatkan keuntungan. Memang siapa yang tidak ingin uang apalagi tanpa harus bersusah paya medapatkannya pasti semua orang menginginkannya hanya saja apakah ini adalah bagian dari etika dan budaya dalam berdemokrasi.

Atau apakah prinsip kasih uang yang penting menang sebagai tujuan dalam dunia pemilihan seperti kepala daerah saat ini dan khsusnya juga Kota Bitung sebagai hal biasa dan tak perlu dikritisi? ini namanya salah besar jika semua di dasarkan uang jelas demokrasi mulai merosot orang tidak lagi melihat pemilu sebagai lomba menuangkan ide dan gagasan untuk tujuan kesejahteraan tetapi lebih kepada mencari keuntungan kepada mereka yang mencalonkan diri.

Pemilu Kota Bitung pun mulai berhembus dengan akan di bagi-bagikannya uang oleh salah seorang Paslon dengan iming-iming bervariasi pada 9 Desember mendatang tentu dari etika dan budaya dalam berdemokrasi jelas ini mencoreng, sebab sampai kapanpun dalam kampanye nilai ini kurang di suarakan bahkan tidak sama sekali maka percuma poin mulia tersebut di jadikan undang-undang.

Masyarakat pun didik dengan cara yang tidak elegan dan telah membudaya hingga hari ini memili paslon karena  memberi uang bukan dengan kinerja program ditawarkan tidak membuat rakyat bergeming lagi sebab yang di pikirkan hanya uang

Jika demikian bagaimana seluruh partai politik peserta pemiliu di Kota Bitung menanggapi hal ini dan sejauh mana pendidikan politik di pemilihan kepala daerah tersosialisasi kepada seuruh lapisan masyarakat apakah prinsip yang penting menang sudah cukup ataukah ada hal lain.

Baca Juga : Debat Akhir Pilpres Amerika Biden Ungguli Trump

Menyikapi seandainya benar ada paslon akan membagi-bagikan uang, maka di harapkan ada semacam gerakan kesadaran dari masyarakat untuk dapat menahan hal ini bahkan kalau bisa di laporkan kepada yang berwenang meskipun kita membutuhkan uang. Bila ini menjadi konstitusi untuk di jalankan maka waktu-waktu selanjutnya ada warisan berharga atas tindakan hari ini kita lakukan untuk generasi selanjutnya.(bdc)

thumbnail

By On Oktober 23, 2020

 

Sumber gambar metropolis  editing bidikdot

Bidikdotcom Di tengah masa kampanye Pilkada serentak 2020 khususnya Kota Bitung yang masih sementara berlangsung saat ini mencuat isu seputar tenaga honorer harus berijazah sarjana. Sebab di ketahui bahwa rata-rata tenaga honorer atau disebut tenaga kontrak yang tersebar di seluruh pemerintahan Kota Bitung berijazah SMA.

Informasi tentang isu THL atau tenaga kontrak harus sarjana bukan nanti saat ini mencuat di hadapan publik masyarakat Kota Bitung tetapi sejak beberapa tahun lalu sehingga akan sedikit mengganggu para tenaga kontrak yang notabenenya masih berijazah SMA.

Baca Juga : Debat Akhir Pilpres Amerika Biden Ungguli Trump

Memang secara intelektual tenaga-tenaga yang bekerja di lembaga pemerintah mulai di Kantor Walikota sendiri, Kantor Kecamatan hingga Kantor Kelurahan ada baiknya di isi oleh mereka yang memiliki pendidikan bertaraf sarjana sehingga dari sudut pandang intelektual benar-benar tertakar profesional dan akan terlihat job/pekerjaan dari masing-masing individu tersebut sebagai pekerja sesuai dengan pendidikan yang mereka jalani.

Tetapi perlu di perhatikan dan di akomodir juga mereka yang berijazah SMA tetapi memiliki sarat pengalaman pekerjaan yang bisa juga di katakan seperti mereka dengan ijazah sarjana bahkan lebih dari mereka yang pernah menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Jika ini benar-benar di berlakukan pada tahun depan maka para tenaga kontrak atau honorer yang berijazah SMA akan terancam kehilangan pekerjaan. Bahkan mereka yang berprofesi sebagai guru akan kehilangan dedikasinya setelah bertahun-tahun mereka persembahkan untuk dunia pendidkan dalam mengajar serta mendidik para murid dengan kedekatan yang sudah terbangun.

Dan ini ternyata tidak hanya sebatas isu ada beberapa sekolah yang telah memberhentikan tenaga gurunya sebagai honorer karena bukanlah lulusan sarjana. Ini terjadi di salah satu sekolah di Kecamatan Lembeh Utara tepatnya di Kelurahan Pintukota.

Kepala Sekolah SDN Pintukota  telah memberhentikan 2 guru honorernya karena tidak memiliki ijazah sarjana sebagai pertanggung jawabannya untuk mengikuti prosedur Dinas Pendidikan Kota Bitung.

Hanya saja pemberhentian ini di keluhkan oleh para orang tua murid dimana kedua guru tersebut memiliki cekatan dalam memberi pembelajaran kepada anak-anak mereka saat ada di sekolah. saat kami tanyakan alasan apa kedua guru tersebut di berhentikan tapi para orang tua tidak mengetahui secara jelas pemberhentian guru tersebut.

Itu dari dunia pendidikan bagaimana dengan pegawai kecamatan dan kelurahan dimana tidak semua yang berijazah sarjana mengetahui program operasi sebuah komputer berkenan dengan input data kependudukan atau tugas jenis lainnya.

Apalagi kalau di tanya apakah pegawai berijazah sarjana bisa berbahasa inggris dengan baik tentu jawaban paling dominan banyak akan katakan "tidak" kecuali dia seorang sarjana dari sastra bahasa. Apapun yang akan ditetapkan pemerintah demi sebuah kualitas pekerjaan dalam institusi pemerintah seluruh masyarakat Kota Bitung harus menerimanya.

Tetapi perlu juga di pertimbangkan hal-hal otentik yang tidak dimiliki orang lain kepada sesama tenaga honorer sehingga tidak akan terjadi gesekan sosial di tengah masyarakat. Artinya pemerintah dapat membuat semacam regulasi khusus di daerah dalam hal ini Kota Bitung mengatur hal-hal tadi tanpa mengabaikan yang berijazah SMA.

Memang jika melihat UU No.5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara maka tenaga kontrak yang berijazah SMA terasa tak berkutik apa-apa. seperti bunyi pasal 6 : Pegawai ASN terdiri atas : a. PNS dan b. PPPK.

Apa itu PPPK 

PPPK merupakan kependekan dari Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja  maksudnya adalah warga Negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, yang diangkat berdasarkan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu dalam rangka melaksanakan tugas Pemerintahan.

Dan mendapat hak yang sama dengan PNS mengenai gaji,  tunjangan kesehatan yang di biayai melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) atau Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) sumber : website bimbingan.org.

Tetapi perlu di ingat pengawai honorer dengan penggunaan kontrak tidak serta merta menjadi PNS karena untuk menjadi pengawai pemerintah tetap harus melalui uji dan seleksi ketat hingga pemerintah daerah tidak sembarang mengangkat pegawainya dari status ini.

Bila merujuk dari alasan undang-undang ini maka tenaga kontrak memiliki kesamaan karir dalam segi administrasi (ijazah) karena menjadi seorang PNS harus sarjana. maka demikian pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja sebagaimana diatur dalam UU No.5 Tahun2014 ini tidak dapat di bantah lagi.

Bagaimana Ijazah SMA tetapi memiliki kualitas kerja?

Kembali pada kebijakan Pemerintah setempat bila akan mengakomodir mereka yang berijazah SMA tetapi memiliki kualitas kerja unik seperti bisa pemograman Komputer, fasih berbahasa Inggris, Guru berpengalaman dapat membuat regulasi tanpa bertentangan dengan UU ASN tadi.

Baca Juga : Harapan THL Pala dan RT Di Hut Ke 30 Kota Bitung

Mengenai tahun 2021 tenaga honorer atau kontrak harus berijazah sarjana masih menjadi pembicaraan dikalangan masyarakat sebab yang akan memberi pernyataan diberlakukannya atau tidak hanya Pemerintah daerah Kota Bitung sendiri. kita tunggu saja siapa yang aka terpilih pada 9 Desember 2020 mendatang mereka terpilihlah yang akan mengatur semus sistem pemerintahan termasuk isu dalam bahasan ini. (bdc)

thumbnail

By On Oktober 19, 2020

 

Bidikdotcom Satu bulan lebih lagi (48 hari) menuju pemilihan kepala daerah Kota Bitung pada 9 Desember 2020. para pasangan calon terus memaparkan program-program unggulan mereka pada kampanye blusukan di rumah-rumah warga tersebar di 69 kelurahan dan di 8 kecamatan.

Masing-masing calon memiliki cara berbeda menyampaikan program unggulannya agar diterima masyarakat memimpin Kota Bitung lima tahun mendatang. Baik dunia nyata maupun dunia maya lewat media sosial dimana sarana ini menjadi tempat berbagi para calon walikota dan wakil walikota dimana rata-rata penggunanya adalah para anak muda.

Baca Juga : Mantiri Honandar Pasang Wifi Gratis Di Kota Bitung

Tentu sebuah keindahan bila kampanye pilkada tahun 2020 ini diwarnai dengan euforia kerukunan dan kekeluargaan walau ada yel-yel sedikit menyinggung dari masing-masing paslon dalam menyampaikan program kerjanya bila memimpin Kota Bitung.

Bukan hanya itu masing-masing tim pemenangan dari pasangan calon pasti telah memetakan wilayah-wilayah mana mendapat perolehan suara yang nantinya akan menambah pundi suara meraih kemenangan di pemilihan walikota dan wakil walikota Bitung. Sehingga saat mengetahui ada wilayah yang tidak masuk area mendulang suara maka para tim dan paslon akan bekerja mencari cara agar itu tidak terjadi.

Menarik untuk di telisik adalah posisi para kaum milenial dimana sosial media adalah tempat nongkrong mereka untuk berbagi cerita informatif sementara pasangan calon walikota dan wakil walikota pun menggunakan area ini memperkenalkan program kerja mereka di sosial media.

Namun sejauh mana konstruksi tersebut menarik minat para kaum muda atas program yang ditawarkan masing-masing paslon lewat sosial media ini.

Kita akan bahas takaran suara pemilih pemula dan perkiraan perolehan suara dari masing-masing paslon terhadap anak-anak muda nantinya akan memberikan hak suara mereka pada 9 Desember mendatang.

Kota Bitung terdiri dari 8 kecamatan dan 69 kelurahan bila dipetakan jumlah kaum milenial ada di sekitar 27-30% dari 152.000 sekian keseluruhan pemilih (data bps 2019). itu berarti ada 45.000 sekian pemilih milenial di Kota Bitung. Dengan rincian masing-masing 8 kecamatan memiliki 5.625 pemilih  jika 45.000 pemilih dibagi 8 kecamatan.

Hanya saja angka ini tidak kompatible dengan kecamatan-kecamatan yang memiliki jumlah suara pemilih sedikit seperti Kecamatan Lembeh Utara dan Selatan jika di total hanya 14.580 pemilih. berarti jumlah milenialnya ada di sekitar 4086 pemilih, jika dibagi 2 Lembeh Utara 1700 sedangkan Lembeh Selatan berjumlah 2385.


Dari statistik diatas  maka suara pemilih milenial bisa menjadi rebutan dari para pasangan calon yang akan bertarung di pilkada 9 Desember nanti.

Prediksi perolehan suara dari masing-masing pasangan calon :

Pasangan Lomban-Tumbel :

Kelompok Kerja : karena petahana, dipastikan akan memenangkan wilayah kelompok ini karena ada dalam pemerintahannya di lima tahun terakhir meskipun ketersediaan lapangan kerja hingga hari ini menjadi pertanyaan masyarakat Kota Bitung apalagi menyangkut pengangkatan THL. dan ini akan menjadi pedal penyangga bagi pasangan lain yang sementara tancap gas. dikelompok ini petahana akan mendapat respon 16,5% suara.

Belum Bekerja : Kelompok ini akan sedikit lebih pesimis atas capaian dari petahana selama memimpin Kota Bitung dan di pastikan akan kalah telak dari pesaingnya yang juga adalah petahana. respon suara dari kelompok ini terhadap Lomban-Tumbel akan ada dikisaran 13% suara

Pemilih Pemula : Kelompok ini sifat statisnya cukup signifikan dan tingkat pengaruh mendapat informasi dari orang lain maupun kerabat terdekatnya siapa akan dipilih menjadi pertimbangan apalagi mereka dibangku pendidikan, dan pasangan nomor urut 1 akan mendapat respon suara sebesar 4.5%

Pasangan Lengkong-Pontoh

Kelompok Kerja : Meski terkesan terburu-buru dalam pencalonan lalu pasangan yang di usung Partai Golkar dan PAN ini mendapat respon suara dari kelompok ini sebesr 8% mengingat karir yang dilalui calon walikota cantik ini cukup mempengaruhi mereka yang pernah bekerja dengannya dalam hubungan kekeluargaan.

Pemilih Pemula: Pengalaman artis Maya Rumatir saat menjadi calon DPD pemilihan Sulawesi Utara mendapat respek dari masyarakat ini juga bisa terjadi bagi pasangan Victorine dan Gunawan mengingat keaktifan mereka di sosial media dan pesona raut kadang menjadi penggerak bagi mereka untuk menjatuhkan pilihannya. kelompok ini dapat memberi respon pada pasangan Golkar dan PAN dengan raihan 5%.

Belum Bekerja : Pasangan Victorine Lengkong dan Gunawan Pontoh masih bisa bersaing dengan dua petahana yang akan menjadi kompetitor berat mereka jika jejualan programnya dapat menyindir para pencari kerja apalagi dimasa pandemi covid-19. Tidak hanya berjanji tapi langsung pada ketersediaanya lapangan kerja seperti menjadi bagian dari tim meskipun royalnya kecil. bila ini dimaksimalkan maka respon suara akan didapat sebesar 14% suara.

Pasangan Mantiri Honandar

Kelompok Kerja : Sama halnya dengan petahana walikota, Mantiri Honandar juga memiliki pengaruh terhadap kelompok milenial ini meski tidak sebesar yang diberi pasangan nomor urut 1, karena keterbatasan kekuasaan bukan berarti pasangan ini akan kehilangan lirikan dari mereka anak muda yang sudah bekerja respon suara dari kelompon ini terhadap pasangan dari PDI Perjuangan sebesar 13%.

Belum Bekerja : Respek kelompok ini terhadap pasangan Mantiri Honandar cukup tinggi setelah paparan program kerja yang cukup membuka wawasan para anak muda. Mantiri Honandar menjanjikan tidak akan ada tenaga kerja asing di Kota Bitung anak muda Bitung harus menjadi tuan rumah di rumahnya sendiri bukan penonton. sehingga respon suara diberi dari kelompok ini sebesar 17%.

Pemilih Pemula : Sapaan Om Kumis sempat menjadi trending disosial media setelah lagu DJ dibuat oleh para anak muda diantaranya adalah pemilih pemula bahkan bawaan yang seperti masyarakat biasa mendapat respon positif dari kaum milenial pemilih pemula pasangan dari Hengki Honandar ini. dan respon suara dari pemilih pemula sebesar 5,5%.

Pengertian teknologi

Pasangan Mantiri Honandar lebih diunggulkan ketimbang  kompetitor calon walikota dan wakil walikota lainnya mengenai pengertian dunia teknologi meskipun Victorine Lengkong juga ada dibarisan intelektual ini. namun menyimak gagasan serta ide dalam pemaparan program dari ketiga calon selama kampanye berjalan, pasangan Mantiri Honandar lebih dominan menyuarakan penggunaan teknologi khususnya dalam menjalankan pemerintahan nanti.

Dan Teknologi hari ini telah menjadi kehidupan pergaulan baru dari kaum milenial di Kota Bitung lewat penggunaan "GAWAI" yang hampir tersedia dimasing-masing anak-anak muda. hingga tidak heran dalam status sosial media pasangan yang di usung 7 partai ini mendapat respon like 75-80% dari follower yang mengikutinya.

Apakah ini menjadi ukuran

Jawabannya "iya" dari pantauan kami respek sosial media bagi pasangan Mantiri Honandar cukup tinggi trafictnya dan rata-rata pemberi komentar serta "served thumbs" adalah para wajib pilih milenial yang secara sukarela mendaratkan kesukaan mereka bagi pasangan Banteng Merah tersebut.

Apalagi fanpage sosial media Maurits Mantiri telah dibuka untuk menampung keluhan warga Bitung tanpa harus bertemu langsung dengan mereka siapa saja bisa menyampaikan aspirasi, harapan maupun keluhannya dalam kolom komentar sosmed yang tersedia.

Bila prediksi data ini tidak ada perubahan hingga Desember mendatang maka bisa dipastikan pasangan Maurits Mantiri akan menguasai suara kaum milenial di Kota Cakalang ini.

Sumber data

1. BPS Kota Bitung (2019)

2.175 responden milenial

3.100 pemilih pemula kelompok pelajar

4.Sosial media masing-masing paslon

5.Sosial media umum

Durasi pengumpulan sample responden  dimulai sejak Agustus hingga 17 Oktober 2020 dan rata-rata anak muda lebih ngefans kepada Maurits Mantiri dan Hengki Honandar meskipun nilai raihan dari pasangan nomor urut 1 tidak terpaut jauh. 

Prediksi cakupan suara 3 kompetitor dalam Pilkada Bitung 2020 
dari barisan anak muda

3% yang belum menentukan pilihan adalah para anak muda yang sedikit cuek dengan euforia pilkada Kota Bitung 2020 dan bingung siapa yang akan di pilih sehingga ada yang mengatakan "bukank skarang, nantijo p depe oras"

Baca Juga : Cara Ganjar Pranowo Dinginkan Situasi Unjuk Rasa Tolak UU Cipta Kerja

Inilah sedikit gambaran prediksi perolehan suara khususnya kelompok milenial di Kota Bitung yang akan di Perebutkan oleh 3 kontestan calon kepala daerah Walikota dan Wakil Walikota 2021-2026 



loading...

thumbnail

By On Oktober 19, 2020

 


Bidikdotcom Kampanye pilkada Kota Bitung telah memasuki pekan ke-4 bagi 3 pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota yakni Maxmilian Jonas Lomban dan Marthen Tumbelaka nomor urut 1, Victorine Lengkong dan Gunawan Pontoh nomor ururt 2 serta Maurits Mantiri dan Hengki Honandar nomor urut 3. 

Masing-masing calon menjual programnya kepada masyarakat dengan berbagai janji serta jualan kesuksesan khusus dari pemerintah saat menjalankan pemerintahan (petahana). bagi pasangan lain yang baru menawarkan program tentu perlu gagasan istimewah sehingga tawaran program akan menjadi bidikan utama warga untuk memilih mereka dengan ditambah ide cemerlang maka tawaran program akan mendapat respek dari masyarakat.

Baca Juga : Mantiri Honandar Kampanye Blusukan Sampai Terima Mobil Ambulance

Inilah kemudian dijadikan bahan pertimbangan dari pasangan calon (paslon) nomor urut 3 Maurits Mantiri dan Hengki Honandar bahwa mewujudkan masyarakat yang sejahtera perlu tindakan nyata bukan sekedar menyebar janji-janji manis apalagi itu dalam kampanye dan mereka akan mewujudkannya.

Pada kampanye pertama pasangan diusung oleh PDI Perjuangan tersebut pada minggu 27/9/2020 tepatnya di kelurahan Pintukota mengatakan jika mereka dapat kesempatan pada pemilukada 9 Desember 2020 mendatang maka 1000 wifi gratis siap diluncurkan bila di percayakan memimpin Kota Bitung dan ini mereka buktikan.

Belum menjabat orang nomor satu dan dua di Kota Cakalang Mantiri Honandar langsung membuktikan ucapan kampanye awal mereka bahwa akan ada 1000 wifi gratis. Sabtu 16/10/2020 MM-HH memasang satu titik wifi gratis di 3 wilayah seputaran Kota Bitung. alasan dipasangnya wifi gratis ini menurut Mantiri membantu warga Bitung yang terbatas jangkauan internet.

Menurut Mantiri belajar daring sudah menjadi bagian aktifitas guru dan murid di tengah pandemi sehingga mulai SD, SMP, SMA/SMK Sederajat hingga Mahasiswa dapat menggunakan fasilitas ini. Mantiri juga menjelaskan bahwa pemasangan wifi gratis ini langsung dikerjakan oleh anak muda asli Kota Bitung bukan meminta jasa dari daerah lain.

Masyarakat terjangkau dengan wifi gratis ini memberi apresiasi dan terima kasih kepada calon walikota nomor urut 3 Maurits Mantiri karena sudah menjawab keluhan mereka saat keterbatasan ekonomi melilit  kebutuhan sehari-hari khususnya setelah diterapkannya metode belajar daring.

Launching pemasangan wifi gratis pada 17/10/2020 ditandai dengan penerbangan balon langsung dilakukan oleh calon walikota dan wakil walikota Maurits Mantiri dan Hengki Honandar usungan 7 partai di depan jalan protokol pusat Kota Bitung.

MM-HH sapaan dari Mantiri Honandar tidak menunggu nanti jadi Walikota dan Wakil Walikota baru janji program mereka di jalankan tetapi melihat kondisi rakyat Indonesia di terpa bencana wabah virus berbahaya yakni Covid-19 maka salah satu programnya langsung di buktikan.

Sempat dianggap program hoax Mantiri-Honandar tetap melangkah dan membuktikan bahwa gagasan serta ide mereka diterima warga masyarakat dengan senyuman, dan inilah cara-cara pemimpin elegan yang mengerti apa-apa saja kebutuhan dari warganya sehingga kebutuhan hari ini tidak perlu menunggu dilantik menjabat walikota dan wakil walikota baru dilaksanakan.

Beberapa lembaga survei memang menjagokan pasangan dari PDI Perjuangan yang di motori 6 Partai pendukung lainya yaitu Gerindra, Perindo, PPP, PSI, Hanura, PKB hanya saja ukuran (LS) bukan menjadi refrensi utama karena dua pasangan lainnya tidak kalah menarik program-programnya apalagi sang petahana Maxmilian Jonas Lomban yang masih punya kans fanatik dibawa bendera Nasdem.

Apalagi kepala lingkungan dan ketua-ketua rt bahkan sebagian THL masih akan menjadi andalan sang petahana meskipun para pegawai non PNS ini tidak terlihat gerakan mereka secara kasat mata tetapi dari sudut pandang penguasa mereka-mereka ini akan menjadi pemilih pelapis kedua yang loyal dan bisa saja dapat memberi kejutan dihari (h)-nya nanti.

Tetapi apapun alasannya kerja nyatalah diharapkan masyarakat Kota Bitung bukan hanya umbar janji sementara pembuktian tidak ada. inilah dilakukan pasangan Maurits dan Hengki tanpa harus menunggu karena masyarakat sudah membutuhkannya.

Pelepasan balon saat launching wifi gratis oleh Mantiri Honandar pada 16/10/2020
foto fbmauritsmantiri

Disisi lain apa yang dilakukan pasangan Maurits Mantiri dan Hengki Honanadar dianggap penciteraan padahal dari sini mulai terlihat mana pemimpin yang mampu menjawab kebutuhan warganya dan mana pemimpin yang tidak mampu.

Baca Juga : Humiang Hadiri Pesta Perkawinan Jeremia dan Brenda di Pintukota

Cara-cara iri hati suka membuly dalam pemilihan kepala daerah merupakan gaya calon yang tidak memiliki gagasan serta ide program menjawab keluhan masyarakat sehingga setiap calon pemilih dapat melihat calon mana layak dipilih dan tidak sehingga di kemudian hari tidak akan menyesal dengan keputusan dijatuhakan kepada yang dipilih (bdc).


loading...

thumbnail

By On Oktober 17, 2020

 

Pjs Walikota Bitung Drs.Edison Humiang berfoto bersama pengantin 
Jeremia & Brenda Jumat 16/10/2020 Foto bidikdot

Bidikdotcom Pejabat sementara (Pjs) Walikota Bitung Drs.Edison Humiang M.si menjadi sorotan utama saat berkunjung di acara perkawinan Jeremia dan Brenda pada Jumat 16/10/2020. Orang nomor satu sementara di Kota Bitung ini datang bersama dengan Istri dan beberapa rombongan berkunjung ke bangsal pestah nikah dari Keluarga besar Eliyas Nini dan Tigahari Tuter.

Tak Pelak lagi mantan Sekot Bitung ini disambut meriah oleh warga masyarakat Pintukota yang lagi  meramaikan acara perkawinan pada malam tersebut. Papa Arah Humiang sambutan akrab sang birokrasi ini  tiba pukul 19.15 wita dibangsal acara dan kembali ke Bitung pukul 19.50 wita.

Baca Juga : Mantiri Honandar Pasang Wifi Gratis Di Kota Bitung

Sang Birokrasi terlihat elegan dan santai  berkostum kemeja dan celana jeans warna dongker tua dipadukan dengan kemeja jeans biru muda dari sang istri terlihat benar-benar seperti tamu undangan biasa dan tidak terlihat seperti seorang petinggi negara biasanya beraktifitas dengan uniform Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Sebelum di jamu makan malam Drs.Edison Humiang di persilahkan oleh Camat Lembeh Utara Aristarkus Ansa M.AP dapat menyampaikan satu dua kata sebagai wejangan kepada kedua mempelai yang juga duduk disampingnya. 

Humiang menyampaikan bahwa perkawinan adalah anugaerah Tuhan yang perlu dijaga dan dirawat oleh Jeremia dan Brenda sehingga bila akan kemama-mana dari banyaknya nama Jeremia hanya  Jeremia milik Brenda dihati dan hidup serta sebaliknya hanya nama Brenda dihati dan hidup Jeremia. ia juga menitipkan pesan agar apa yang telah diikrar di dalam gereja oleh hamba Tuhan harus di pertahankan hingga maut memisahkan.

Selanjutnya Asisten 1 Provinsi Sulawesi Utara ini menyinggung soal persiapan Pemilukada serentak pada 9 Desember 2020 mendatang secara umum Provinsi Sulawesi Utara dan Khususnya Kota Bitung yang akan memilih Walikota dan Wakil Walikota. 

Humiang menghimbau agar seluruh masyarakat Kota Bitung dapat menyukseskan Pemilu dengan Aman, Damai dan penuh kerukunan sehingga dapat fokus memilih pemimpin yang benar-benar mendantangkan kesejahteraan bagi seluruh warga Kota Bitung.

Pjs Walikota ini pun meminta agar dapat membantu Camat Lembeh Utara dalam menyukseskan Pilkada Kota Bitung sebagaimana yang diinginkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku ia juga mengingatkan para Pala dan RT serta perangkat Pemerintah untuk bersikap netral dalam menghadapi masa-masa kampanye saat ini.

Dan ungkapan ini disambut dengan tepuk tangan meriah oleh warga didalam bangsal perkawinan menutup sambutannya Drs.Edison Humiang kembali menyapa kedua mempelai Jeremia dan Brenda  untuk mengingat semua di berikan orang tua dihari sukacita ini.

Penuntun acara tidak berlama-lama selesai Pjs Walikota ini menyampaikan sambutannya kepada kedua mempelai bahkan semua warga masyarakat Kelurahan Pintukota yng turut hadir didalam bangsal langsung mempersilahkan Ibu.Humiang menuntun dalam doa untuk jamuan kasih.

Selesai makan malam Pjs ini membawakan 3 buah lagu khusus buat pengantin Jeremiah dan Brenda dan sesekali membuat kelakar lucunya sehingga semua yang hadir tertawa. Selesai membawakan 3 buah lagu berturut-turut Drs.Edison Humiang diminta pengantin untuk berfoto bersama. tetapi bukan hanya pengantin, hampir semua yang hadir dibangsal meminta foto bersama dengan birokrasi sukses asal Nusa Utara itu.

Pihak keluarga pun mengucapkan terima kasih buat Bapak Drs.Edison Humiang yang telah mampir berkunjung keacara kami keluarga dan merupakan kehormatan bagi kami Bapak boleh hadir malam ini ungkap keluarga diwakili oleh Deny Sondoh. 

Baca Juga : Hut Kota Bitung ke 30 Tanpa Festival Dan Pengucapan Syukur 

Turut mendampingi rombongan Pjs Walikota Bitung Camat Lembeh Utara, Lurah Moto Verawati Lorameng  mantan Lurah Pintukota Jhon Kalangit Pala, RT Pintukota dan beberapa tokoh masyarakat.

thumbnail

By On Oktober 10, 2020

THL Pala dan RT Kelurahan Pintukota mengatur bantuan sembako dari 
pemerintah akibat dampak covid-19 untuk disalurkan kepada masyarakat 
gambar bidikdot (dzt)

Bidikdotcom Hari ini Sabtu 10 Oktober 2020 merupakan hari bersejarah bagi masyarakat Kota Bitung dimana daerah yang sebelumnya ada dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Minahasa saat ini merayakan hari ulang tahunnya yang ke 30. sejarah mencatat bahwa Kota Bitung merupakan wilayah otonom sejak tahun 1990 dari daerah administrasi menjadi Kota Madya dan di pimpin seorang Walikota.

Tetapi ada hal menarik dari perayaan ke 30 tahun kota yang disebut dengan Kota Cakalang ini yakni tidak dirayakan bersama oleh Walikota Maxmilian Jonas Lomban dan Wakil Walikota Maurits Mantiri karena  kedua petahana ini sedang mengambil cuti dinas ikut dalam kampanye Pilkada 2020 untuk maju dalam pemilihan Walikota dan Wakil Walikota 9 Desember 2020 mendatang.

Baca Juga : Hut Kota Bitung Ke 30 Tanpa Festival Dan Pengucapan Syukur

Perayaan ke 30 tahun ini dirayakan oleh Pejabat Sementara (Pjs) Walikota Bitung Drs.Edison Humiang M.si yang juga sebagai Asisten 1 Provinsi Sulawesi Utara bidang kepemerintahan. Humiang bukan sosok asing di Kota Bitung sebab ia juga salah satu putra terbaik Kota serba dimensi ini sehingga lewat mendagri menunjuknya mengisi kekosongan dimana dua petahana sedang ikut Pilkada.

Biasanya juga di hari ulang tahun Kota Bitung ada banyak kegiatan bernuansa kreatif, budaya serta sosial untuk meramaikan euforia Kota yang dihuni sekitar 200 ribu jiwa ini. namun berbagai agenda dan moment penting maka euforia berkenan dengan hut tersebut tidak dilaksanakan.

Belum lagi wabah pandemi covid-19 atau corona virus desease masih mengancam masyarakat bila melakukan kerumunan secara berlebihan yang pada akhirnya bisa memberi peluang terjadi klaster penyebaran baru dari wabah virus berbahaya ini.

Kota Bitung hingga 9/10/2020 terpapar positif virus corona ada di angka 501 orang. sehingga untuk melakukan euforia berlebihan seperti tahun-tahun sebelumnya sangat tidak di mungkinkan karena akan melanggar protokol kesehatan sebagaimana digaungkan pemerintah sendiri.

Ini di perkuat dengan Surat Keputusan Walikota Bitung yang telah beredar dimasing-masing instansi termasuk di kelurahan-kelurahan yang di tandatangani Pejabat sementara dan diumumkan pada Jumat 9 Oktober 2020 dimana tidak ada pelaksanaan kegiatan pengucapan syukur secara berlebihan yang mendantangkan warga dari tempat lain.

Pengucapan syukur hanya dilaksanakan dirumah-rumah warga atau jemaat masing-masing sesuai dengan kebijaksanaan pemimpin-pemimpin denominasi masing-masing gereja. namun tetap menjalankan protokol kesehatan meskipun penetapan ini kadang dilanggar oleh sebagian warga masyarakat Kota Bitung dalam anggapan wabah berbahaya tidak akan sampai pada dirinya.

Dua iven kebanggan warga daerah multi dimensi ini yaitu Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL) dan Pengucapan Sykur (thanks giving) menjadi atmosfir penggerak meramaikan hari ulang tahun Kota Bitung setiap tahunnya bahkan FPSL merupakan kalender Nasional 100 Iven dalam negeri yang bertujuan  mendongkrak pariwisata nasional dimata dunia.

Namun seluruh warga masyarakat Kota Bitung harus menahan euforia di tahun ini karena persoalan sosial yang menerpa Indonesia bahkan dunia secara umum atas hadirnya wabah penyakit baru yakni virus corona yang berawal penyebarannya dari Wuhan Provinsi Hubei Tiongkok dimana telah memakan korban hingga jutaan di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Harapan Masyarakat Dan Pemerintah 

Lepas dari semua uraian di atas tentu sebagai masyarakat memiliki harapan saat Kotanya berusia ke 30 tahun hari ini 10 Oktober 2020. harapan-harapan yang bisa menjawab setiap persoalan tentu menjadi dambaan warganya sehingga semakin melangkah dewasa di usia yang baru ini  Kota Bitung akan menjadi Kota yang rukun damai dalam persaudaraan dan kekeluargaan.

Bahkan akan menjadi Kota lebih dikenal dunia karena punya prospek pariwisata luar biasa  bahkan hasil laut dan perkebunan bisa menjadi komoditi andalan memajukan perekonomian warganya.

Bukan hanya itu diusia ke 30 tahun ini kesadaran masyarakatnya dalam penggunaan sampah plastik semakin rendah sehingga Kota Bitung bisa bebas sampah. sebab salah satu persoalan krusial kenapa sampah di Kota Bitung belum terkelola dengan baik meski punya armada pengangkut sampah karena warganya rendah terhadap kesadaran untuk membuang sampah.

Demikian juga dengan Pemerintah tentu mengharapkan warga masyarakatnya untuk terus mendukung program pemerintah termasuk taat membayar pajak walaupun saat ini masyarakat Kota Bitung dibuat kaget dengan kenaikan pajak yang cukup signifikan.

Harapan-harapan lain tentu akan menjadi komoditi empuk jejualan para kandidat calon Walikota dan Wakil Walikota Bitung saat ini sementara memaparkan program kerjanya jika dipercayakan masyarakat memimpin Kota Bitung lima tahun kedepan dalam kampanye blusukan secara sederhana dengan penerapan protokol kesehatan.

Bagaimana dengan harapan para Tenaga Harian Lepas (THL) yang statusnya non pegawai negeri sipil (PNS) bersama Pala dan RT sudah 2 bulan ini tidak menerima honor padahal kehadiran mereka di jajaran pemerintahan Kota Bitung cukuplah membantu.

Sangat disayangkan memang hari ulang tahun seharusnya para pengabdi Pemerintah tersebut ikut bersyukur dan berbahagia namun saat ini mereka hanya mengeluh tanpa tujuan siapa yang akan mendengar keluhan mereka. padahal kebersihan lingkungan dan pendataan masyarakat terhadap kependudukan tidak lepas dari kehadiran mereka secara semangat dan sukarela memberi dirinya meskipun honor yang dibayarkan kadang tidak mencukupi.

Jikalau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) ditetapkan Pemerintah setiap tahunnya didalamnya sudah termasuk pembayaran honor THL Pala dan RT maka sangat tidak masuk akal jika honor/gaji mereka tidak dibayarkan sesuai jadwal pembayaran gaji. kecuali anggaran pembiayaan pekerja pemerintah non PNS ini diluar anggaran daerah.  

Ini merupakan kemaslahatan manusia bukan sekedar mereka hanya itulah inilah dan sebagainya sehingga terkesan THL, Pala dan RT  di Kota Bitung tidak terlalu penting. maka dengan itu ada upaya pemerintah dalam hal ini PJS  Walikota dapat menjawab kerinduan para pekerja pemerintah non PNS untuk dapat mencairkan gaji mereka selama 2 bulan bahkan akan memasuki bulan ketiga.

Baca Juga : 30 Tahun Kota Bitung Dalam Pembangunan

Kiranya harapan masyarakat Kota Bitung tentang kemajuan, kesejahteraan, dan perlindungan hukum baik sosial, ekonomi, pendidikan  maupun budaya termasuk harapan para pekerja non PNS, ini juga akan terintegrasi bagi ketiga pemimpin Calon Walikota dan Wakil Walikota Bitung siapa akan dipercayakan nanti oleh  warga kota multi dimensi ini lima tahun selanjutnya 2021-2026. Akhir tulisan ini dirgahayu Kota Bitung Tuhan yang Maha Kuasa senantiasa memberkatimu.


loading...

thumbnail

By On Oktober 05, 2020


Tidak ada euforia FPSL 2020 seperti tahun kemarin Gambar bidikdot

Bidikdotcom Masyarakat Kota Bitung akan merayakan hari ulang tahunnya ke 30 tepatnya pada Sabtu 10 Oktober 2020 sebagaimana informasi dari beberapa group sosial media baik lewat edaran resmi pemerintah maupun beberapa postingan dimana  mengingatkan memori pada tahun 2019 lalu sehubungan dengan berbagai kegiatan menarik seputar hari ulang tahun Kota Bitung.

Salah satu kegiatan berhubungan dengan hari ulang tahun Kota Bitung adalah Festival Pesona Selat Lembeh  (FPSL). Kegiatan festival ini tidak hanya menjadi program Pemerintah Kota Bitung tetapi telah menjadi iven berskala Nasional dalam rangka mendongkrak kemajuan serta pengembangan pariwisata di setiap daerah yang ada di tanah air.

Baca Juga : Mantiri Honandar Kampanye Blusukan Sampai Terima Blusukan Ambulance

Tahun 2020 ini berkenan dengan bencana non alam sedang melanda dunia termasuk Indonesia secara umum yakni masih meningkatnya penyebaran wabah virus corona di berbagai daerah dan Kota Bitung secara khusus maka pelaksanaan Festival Pesona Selat Lembeh tahun 2020 kemungkinan tidak akan dilaksanakan.

Mengingat pelaksanaan FPSL merupakan barometer warga Kota Bitung dan setiap pelaksanaanya selalu menghadirkan ribuan warga Kota Cakalang menyerbu spot-spot tempat pelaksanaan kegiatan baik dalam bentuk perlombaan maupun entertaiment yang menghadirkan artis daerah.

Sehingga akan bertentangan dengan eksistensi Pemerintah dalam rangka memerangi penyebaran wabah virus corona dimana setiap warga masyarakat harus menjaga jarak (social distancing) dan memakai masker sebagai bentuk perlindungan diri dari terpapar covid-19 dan ini harus di jalankan secara disiplin.

Beberapa masyarakat pun memberi komentar tentang tidak dilaksanakannya FPSL salah anak muda dari Kelurahan Pintukota dan Papusungan sempat kami tanyakan memberi tanggapan dengan positif "ini kan masa corona ada baiknya fpsl tidak dilaksanakan" ungkap mereka.

Bukan hanya itu alasan moment bergengsi bagi warga Kota Bitung ini tidak akan dilaksanakan karena berhubungan dengan pemilihan kepala daerah serentak pada 9 Desember 2020 dan bulan Oktober ini adalah masa kampanye dari tiga calon Walikota dan Wakil Walikota nantinya akan memimpin Bitung lima tahun kedepan.

Bahkan pengucapan syukur atas panen raya dan lainnya dimana sebagai satu rangkaian dalam rangka hut Kota Bitung tidak akan seperti tahun-tahun sebelumnya dengan mengundang warga daerah lain di luar Kota Bitung atau sanak saudara untuk datang (pasiar).

Pelaksanaan pengucalpan syukur hanya dalam bentuk ibadah minggu di gereja-gereja sesuai dengan pengaturan pimpinan denominasi gereja masing-masing dengan tidak mengumpulkan banyak orang seperti makan bersama dan lainya.

Memang seluruh elemen masyarakat Bitung harus dapat menahan diri karena Indonesia ada di tengah kesesakan sosial dan harus mendukung upaya pemerintah memerangi penyebaran wabah virus berbahaya yang mengancam keselamatan manusia. dilain pihak pelaksanaan kampanye Pilkada merupakan amanat undang-undang harus dihargai setiap warga negara.

Sehingga hal-hal menyangkut euforia seperti pada tahun-tahun sebelumnya harus dikesampingkan dahulu mengingat moment lima tahunan perlu dukungan utama dari segenap masyarakat Kota Bitung meski di hut ke 30 ini tanpa festival dan pengucapan syukur.

Sejak kepemimpinan mantan Walikota Hani Sondakh (alm) FPSL telah di canangkan sebagai program masyarakat Bitung  dalam rangkaian hari ulang Kota. hingga hari ini kegiatan FPSL telah menjadi fakta sejarah bagaimana Kota Bitung  memiliki sumber kekayaan luar biasa.

Hanya saja disayangkan tidak ada semacam gerakan eksekusi mumpuni untuk dijadikan senjata andalan dalam memberi peningkatan terhadap perekonomian warga Bitung  secara menyeluruh. padahal kegiatan ini merupakan aset wisata masa depan bagi masyarakat karena di dukung dengan fasilitas penginapan resort dan spot diving yang indah.

Di resort-resort wisata tak terlihat gerakan pemerintah dalam rangka kampanye kemajuan pariwisata, kemajuan wisata hanya dilakukan oleh pihak pengelolah untuk mendantangkan para turis mancanegara untuk memakai jasa yang mereka sediakan.

Sehingga jika di elaborasi pemerintah dan pihak pengolah pariwisata dan masyarakat sekitar yang terhubung di dalamnya untuk FPSL pasti dampaknya akan sangat luar biasa. dan dimungkinkan dari situ akan ada ciptaan lapangan kerja baru atau hal lain dalam rangka pengembangan ekonomi warga.

Baca Juga : Lembeh Zona Hijau Corona Warga Berharap Ada Batasan Pengunjung

Apapun alasannya untuk tahun 2020 ini euforia berlebihan harus di tahan kita sama-sama berperang melawan wabah virus berbahaya agar tetap sehat hingga tahun-tahun selanjutnya asal disiplin menjalankan protokol kesehatan dan tetap memanjatkan doa syukur kepada Tuhan agar kita dilindungiNYA. salam sehat Kota Bitung Sejahtera.



loading...

thumbnail

By On Oktober 02, 2020

Hengki Honandar SE saat menyampaikan orasi politiknya gambar (bdc)

Bidikdotcom Hari ini 2/10/2020 Pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Ir.Maurits Mantiri dan Hengki Honandar SE terus berpacu tanpa lelah mengunjungi warga di masing-masing Kelurahan sebagai kampanye blusukan sebagaimana telah terencana dalam jadwal tim pemenangan MM-HH Kota Bitung dimana Pulau Lembeh menjadi kunjungan pertama pasangan dari PDI Perjuangan ini 

Bertajuk episode 3 kunjungan blusukan dalam rangka kampanye mini pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota ini berbagi tugas Maurits Mantiri berkunjung ke Kelurahan Tanjung Merah dan Sagerat Weru sedangkan Hengki Honandar SE ada di Kelurahan Batulubang dan Paudean Kecamatan Lembeh Selatan.

Baca Juga : 1000 Wifi Gratis Siap Di Luncurkan MM-HH Bila Di Percayakan Memimpin Kota Bitung

Menjadi perhatian khusus cara kampanye kedua pasangan calon ini atas kekhasan bawaan pribadi yang sederhana dengan ungkapan orasi penuh kesantunan dan kekeluargaan sehingga siapa saja hadir saat Maurits Mantiri menyampaikan pokok-pokok programnya akan terkesima dan terharu dengan gaya dan tutur kata yang tidak sama sekali memiliki narasi permusuhan.

Bahkan singgungan berlebihan pada dua kompetitor lainnya tidak terdengar keluar dari  tokoh politik Kota Cakalang ini saat ia menyampaikan orasi politiknya sehingga apa yang di cari orang Bitung yakni pemimpin santun dan meneladani ciri-cirinya seperti Maurits Mantiri.

Sama halnya dengan pasangan calon Wakil Walikota Hengki Honandar dalam orasinya hanya menyampaikan berkenan dengan program akan mereka jalankan jika di percayakan masyarakat untuk memimpin Kota Bitung di lima tahun mendatang.

Program yang tidak punya embel-embel sederhana dan kecil-kecilan namun cukup membuming dan berdamapk luas bagi kesejahteraan masyarakat Bitung secara umum. bahkan keduanya akan menjadikan Kota Bitung sebagai Kota Digital dengan menghadirkan 1000 wifi gratis di seribu titik yang tersebar di seluruh Kota Bitung.

Gagasan serta ide bercorak kemasyarakatan namun memiliki konsep serta eksekusi ketingkat dunia dan ini terbukti dengan respon dan komentar seorang wisatawan asal Eropa menyampaikan agar Maurits Mantiri di percayakan masyarakat untuk menjadi pemimpin di Kota Bitung dimana saat ini sedang menjalankan kampanye.

Respon dan reaksi cukup tinggi diberikan masyarakat Kota Bitung kepada sosok yang juga disapa sebagai "om kumis" itu atas dedikasinya dipersembahkan bagi masyarakat lewat merasahkan langsung kesusahan yang di rasakan oleh warga ketika ia mendapatinya.

Inilah pemimpin selama ini di harapkan masyarakat Kota Bitung turun langsung melibatkan diri dengan apa yang dilakukan warga bukan hanya telunjuk sana dan telunjuk sini.

Selesai menyampaikan beberapa program dalam kunjungannya di Kelurahan Sagerat Weru calon Walikota dari enam partai pendukung Gerindra, Perindo, Hanura, PKB, PPP, PSI ini mendapat bantuan mobil ambulans dari salah satu keluarga yang tidak disebutkan nama keluarganya.

Di kutip dari salah satu postingan sosial media dengan akun Tennie Wior satu unit ambulans di sumbangkan oleh warga untuk membantu kerja kampanye Maurits-Honandar dan tidak ada unsur paksaan benar-benar pemberian yang tulus dan sukarela bagi seorang pemimpin yang dapat mengayomi masyarakat tanpa sekat.

Mantiri pun menyampaikan rasa terima kasihnya atas pemberian itu. "Kita tidak menginginkan mobil ini digunakan. tapi ini adalah bentuk ketulusan membantu setiap warga," tanpa melihat siapa ucap Maurits Mantiri saat menerima kunci mobil ambulans tersebut.

Baca Juga : Jalan Tol Pertama Pulau Sulawesi Di Resmikan Presiden Joko Widodo

Pasangan Hengki Honandar ini juga menyampaikan jika benar-benar amanat masyarakat Kota Bitung akan diberikan kepadanya maka jangan lupa tanggal 9 Desember 2020 mencoblos nomor 3 pasangan Maurits Mantiri-Hengki Honandar dengan paket yang sama calon Gubernur Olly Dondokambey dan calon Wakil Gubernur Steven Kandow untuk Sulawesi Utara. (bdc)

loading...

thumbnail

By On September 28, 2020

Calon Walikota Ir.Maurits Mantiri dalam orasi politiknya 27/9/2020
Foto : bidikdotcom

Bidikdotcom Dalam kampanye pertamanya Calon Walikota Bitung Ir.Maurits Mantiri saat mengunjungi Pulau Lembeh Minggu 27/9/2020 tepatnya di Kelurahan Mawali dan Kelurahan Pintukota menyampaikan jika masyarakat Kota Bitung khususnya Pulau Lembeh mempercayakan dirinya serta Hengki Honandar sebagai Wakil Walikota Bitung untuk memimpin Bitung kedepan lewat Pilkada 2020 maka program yang sebelumnya sempat mandek alias tidak jalan di pastikan akan jalan kembali.

Menurut Calon Walikota Bitung ini seperti yang telah dibuatnya beberapa waktu lalu mengenai ekonomi kreatif masyarakat kepulauan khususnya Lembeh dengan membangun 100 kamar hotel berbasis home stay tidak maksimalkan karena pengambilan keputusan darinya sangat terbatas.

Baca Juga : Kampanye Hari Pertama Di Pulau Lembeh Maurits Mantiri Di Sambut Hangat

Diketahui 100 kamar hotel berbasis home stay ada di salah satu Kelurahan Batu Woka tepatnya di Pintukota Kecil. desa ini hendak dijadikan desa wisata pertama kalinya di Pulau Lembeh dan terlihat antusias masyarakat menyambut program ini sehingga ada beberapa warga yang siap dan bisa menerima tamu manca negara untuk tinggal beberapa hari dirumah tersebut.

Namun menurut Mantiri program ini mandek ditengah jalan dan tidak ada eksekusi maksimal ia memastikan jika dirinya memimpin Kota Bitung maka semua program pro rakyat tersebut akan kembali bergulir sebab program hotel berbasis home stay adalah program menaikan taraf ekonomi rakyat. dan ia sendiri sementara membangun mitra kerja dengan para turis yang nantinya akan berkunjung ke Bitung.

Bukan hanya itu pria yang juga disapa "Om Kumis" akan memberikan 1000 wifi gratis di setiap titik wilayah Kota Bitung yang belum tersentuh internet dan atau jaringan internetnya bermasalah. Internet gratis ini juga bukan kaleng-kaleng sebab yang akan di tanggulangi MM-HH wifi berteknologi "fiber optic" dengan bawaan data cukup besar benwithnya sehingga gamer seperti Free Fire dan Mobile Legend dapat terjangkau.

Fungsi dari 1000 wifi ini untuk mengintegrasikan seluruh kebutuhan masyarakat secara digital di Kota Bitung mulai dari tingkat Kelurahan hingga Kecamatan dan untuk para murid sekolah yang sedang dan sementara belajar daring sebagaimana program pemerintah saat ini.

Pengadaan wifi gratis ini diharapkan dapat menjawab harapan masyarakat yang ingin terjangkau dengan internet. khusus di pulau lembeh ada beberapa titik di setiap kelurahan yang tidak terjangkau dengan internet seperti kelurahan Moto, Posokan, Batu Woka, Pancurang dan Dorbolaang.

Menurut Mantiri semua titik yang tidak terjangkau internet di Pulau Lembeh sudah ia lihat langsung bagaimana para anak-anak bersama orang tua berkumpul di satu tempat mencari jaringan internet. itulah kemudian menggerakan nuraninya untuk mengupayakan Kota Bitung bebas internet artinya tidak akan ada lagi masalah mengenai internet seluruh masyarakat terjangkau internet.

Ia juga mendambakan orang Bitung harus membangun Bitung bukan orang dari luar Bitung. ia mengilustrasikan seperti seorang yang tinggal di tempat kos yang bersangkutan tidak akan memperbaiki jika ada atap yang bocor yang akan memperbaikinya adalah pemilik kos sendiri bukan yang memakai jasa kos tersebut.

Sehingga ia berharap program yang cukup sederhana ini namun memiliki eksekusi luar biasa hasilnya perlu di tindak lanjuti secara konsisten oleh seluruh masyarakat Kota Bitung dengan mencoblosnya pada kotak angka nomor 3 foto Maurits Mantiri dan Hengki Honandar sebagai dukungan untuk menjalankan program pro rakyat yang sempat mandek/tidak jalan.

Baca Juga : Relawan MM-HH Kelurahan Mawali Di Sambangi Walikota Bitung Dan Teriakan Maju Banteng

Hari ini pun 28/9/2020 kampanye pilkada 2020 pasangan MM-HH akan dilaksanakan di Kecamatan Lembeh Selatan dengan proteksi sama seperti di Lembeh Utara yang tetap menjalankan protokol kesehatan penanganan covid-19, namun untuk kesempatan ini akan dijalankan oleh calon Wakil Walikota Hengki Honandar.

thumbnail

By On September 27, 2020

Ir.Maurits Mantiri Calon Walikota Bitung berorasi secara sederhana di 
Kelurahan Pintukota Foto bidikdot

Bidikdotcom Sejak di tetapkannya cuti 25/9/2020 bagi kedua pasangan calon yakni  Maxmilian Jonas Lomban dan Maurits Mantiri notabenenya sebagai petahana pasangan calon Ir.Maurits Mantiri dan Hengki Honandar langsung bergerak cepat memakai waktu  kampanye sebagaimana sudah di jadwalkan dimulai pada 26/9/2020.

Maurits Mantiri yang tidak di dampingi oleh pasangannya melaksanakan kampanye sederhana di beberapa titik di Pulau Lembeh yang sudah di atur oleh tim pemenangannya. Minggu 27/9/2020 Om Kumis sapaan Maurits Mantiri memulai kegiatan kampanye di Pulau Lembeh.

Baca Juga : Maurits Mantiri Tuai Dukungan Dari Masyarakat Nusa Utara Dan Talaud

Penatua PKB Rayon Bitung ini mengawali aktifitas kampanye terlebih dahulu beribadah bersama Jemaat Eunggelion Moto mengingat ia juga memiliki rumah tinggal di Jemaat ini meskipun tidak terdata sebagai masyarakat kelurahan Moto.

Selesai beribadah Maurits Mantiri langsung menuju titik kampanye yang sudah di tetapkan yakni Kelurahan Pintukota dan Kelurahan Mawali. namun ia juga sempat mampir di Kelurahan Batukota tepatnya di Pintukota Kecil sekedar menyapa rekan sepelayanannya Pdt.Albert dan Tokoh Masyarakat Ibu.Makisurat.

Selanjutnya Calon Walikota dari Banteng moncong putih itu langsung menuju lokasi kegiatan di Kelurahan Pintukota dengan rombongan kampanye sesuai jadwal ada di beberapa titik yakni masyarakat muslim dan tokoh-tokoh agama

Maurits Mantiri ingin berjumpa dengan BPMJ dan Pelsus Gmim Betel Pintukota Besar kebetulan saat itu baru selesai kegiatan pelayanan dari WKI dan baru akan dimulaikan pelayanan ibadah dari Pemuda/Remaja Jemaat namun tidak di ijinkan Panwas yang bertugas saat itu karena ada dalam lingkungan gereja serta situasinya dalam masa kampanye. Namun tidak mengurangi rasa simpatik dan antusias warga menyambut Calon Walikota yang cukup sederhana ini.

Maurits Mantiri  menuju lokasi kampanye di rumah milik Kel.Rori-Tapahing yang sudah dibuat tenda kecil dengan kursi diatur berjarak sebagaimana protap kesehatan. dari tim kampanyenya menyiapkan 37 kursi namun yang terisi hanya sekitar 32 kursi.

Dalam orasinya Mantiri mengangkat tentang digitalisasi mempercepat akses pembangunan sebab era jaman ini jika tidak akan memanfaatkan teknologi sebagai penyeimbang dalam pemerintahan maka kerja pemerintah sifatnya jalan di tempat sebagaimana yang ia contohkan mengenai sala satu media streaming miliknya  yang bisa mengkafer keluhan-keluhan masyarakat.

Masyarakat bisa mengakses langsung informasi dari media streaming youtube dan fanpage sosial media lain bila punya keluhan mengenai layanan sosial di tingkat kelurahan atau di kecamatan tanpa harus ke kantor walikota. Pasangan Hengki Honandar ini bila dalam pemerintahannya kedepan ia menginginkan semua akses bisa di jangkau seluruh masyarakat Kota Bitung apalagi di Pulau Lembeh.

Mantiri tidak ingin orang-orang Bitung hanya jadi penonton ditanah sendiri ia akan berupaya setiap perusahaan yang akan berdiri di atas tanah Kota Bitung rekrutmen pekerjanya adalah orang Bitung sendiri bukan orang dari luar Bitung melalui data base berbasis data digital, masyarakat yang memiliki keahlian menurut kopetensinya akan langsung terkontrol dengan data dan ia sendiri akan berlaku sebagai perantara pemberi kerja bagi perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja.

Ia mencontohkan salah satu streaming live sosial medianya yang dibuat asli orang Bitung cukup keren latar belakangnya seperti setingan pada backround media mainstream nasional. ketimbang mengambil orang dari Jakarta atau luar Kota Bitung padahal didalamnya warga Kota Bitung tidak kalah berkualitasnya dengan yang lain, model-model inilah yang ingin ia beri bagi warga Kota Bitung.

Meski harus ia akui tidak memiliki eksekusi penuh dari program kerja yang ia canangkan sebelumnya saat ada di dalam pemerintahan karena keterbatasan kuasa. sehingga meski sebagai wakil walikota namun ia tidak memiliki hak penuh untuk pengambilan kebijakan-kebijakan pemerintahan.

Baca Juga : Tiga Calon Gubernur Sulut Siap Bertarung di Pilkada 9 Desember 2020

Maka dengan itu jika semua program mulia yang diorasikannya hanya sampai didengar masyarakat sebagai sorga telinga tanpa ada tindakan konsisten maka percuma perjuangannya yang hendak ia gapai bersama dengan warga masyarakat Kota Bitung. Untuk itu ia meminta jangan lupa tanggal 9 Desember 2020 memilih MM-HH nomor urut 3 untuk memenangkan pemilu dengan paket Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey bersama Steven Kandow (bdc)

thumbnail

By On September 24, 2020

 

Gambar diambil dari live streaming FB editing bidikdot 

Bidikdotcom Pleno KPU Bitung hari ini Kamis 24/9/2020 pukul 16.00 wita bertempat di gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) daerah Kota Bitung langsung di hadiri oleh ketiga pasangan yakni masing-masing Maxmilian Jonas Lomban-Marten Daniel Tumbelaka, Maurits Mantiri-Hengki Honandar, Victorine Lengkong-Gunawan Pontoh.

Acara pleno dimulai dengan pembacaan doa selanjutnya pembacaan peraturan kpu yang harus ditaati setiap pasangan yang akan maju dalam pilkada Kota Bitung 2020 sambil tetap menjalankan protokol kesehatan penanganan Corona Virus Desease (covid19).

Baca Juga : Maurits Mantiri Tuai Dukungan Dari Masyarakat Nusa Utara Dan Talaud.

Setelah tiba dalam pencabutan nomor urut calon dan pasangan untuk ikut pilkada 2020 pihak KPU mempersilahkan ketiga masing-masing pasangan calon mengambil nomor urut dalam sebuah wadah seperti bola dan nanti di beri aba-aba oleh KPU baru ketiga pasangan dapat menunjukannya kepada pihak KPU maupun kepada beberapa orang yang dipercayakan masuk dalam ruangan sebagai saksi.

Berikut nomor urut masin-masing pasangan calon :

1.Maxmilian Jonas Lomban-Marten Daniel Tumbelaka nomor urut 1

2.Victorine Lengkong-Gunawan Pontoh nomor urut 2

3.Maurits Mantiri-Hengki Honandar nomor urut 3

Dalam pencabutan nomor urut ini seperti telah diatur pencabutannya dan masing-masing telah memiliki nomor urut sebagaimana yang di inginkan. seperti pada pasangan calon Maxmilian Jonas Lomban dan Marten Daniel Tumbelaka yang telah menyiapkan poster kecil bernomor satu seakan-akan mereka akan mendapatkan angka nomor satu dalam penetapan nomor urut paslon dan faktanya seperti itu.

Sama halnya dengan pasangan Maurits Mantiri dan Hengki Honandar simpatisan berharap akan mengikuti jejak nomor urut dari calon gubernur yakni Olly Dondokambey dan Steven Kandow yang dua jam sebelumnya mendapatkan nomor urut 3 saat sidang pleno di KPU Provinsi Sulawesi Utara dan ternyata harapan itu terjawab.

Benar-benar satu paket dari Gubernur hingga Walikota dengan nomor urut 3 identik dengan simbol metal yang selama ini di gaung-gaungkan oleh para pendukung banteng bermoncong putih itu.

Secara hukum supremasi kompetisi pilkada lewat pencabutan dan penetapan nomor urut pasangan calon telah disahkan KPU dan selanjutnya para kompetitor akan memainkan perannya untuk mejalankan amanat undang-undang namun juga amanat protokol kesehatan menjadi agenda utama.

Merupakan sesuatu yang cukup serba salah melaksanakan kampanye pilkada ditengah bangsa dan negara sementara menghadapi wabah penyakit berbahaya yaitu virus corona. sehingga ini sedikit akan mempersempit ruang gerak para kandidat untuk menyampaikan visi serta misinya biasanya didepan masa yang cukup banyak.

Belum lagi kampanye secara virtual di ijinkan untuk dilakukan dalam rangka menekan kerumunan banyak orang agar tidak terjadi klaster baru dari kegiatan kampanye terbuka nanti jika itu ada.

Yang akan menjadi permasalahan jika konsep kampanye virtual dilaksanakan maka belum tentu akan menjangkau masa atau publik secara menyeluruh  mendengar kampanye via live streaming tersebut, sebab tidak semua masyarakat Kota Bitung memiliki gadget standar untuk sebuah video streaming.

Belum ditambah dengan kelurahan-kelurahan yang hingga hari ini di belum terjangkau dengan internet memadai. sebut saja Kelurahan Lirang, Pancurang, Batu Woka, Posokan, Doorbolaang, serta Moto yang pasti tidak bisa menjangkau secara penuh acara virtual ini.

Apapun konsep kampanyenya yang paling utama tidak akan menciptakan penularan covid19 sehingga protokol kesehatan menjadi pilar utama untuk mencegah terjadi klaster baru. memakai masker dan menjaga jarak serta mencuci tangan adalah kebutuhan terdepan saat beraktifitas kampanye di tengah pandemi ini.

Para simpatisan pun perlu untuk saling melindungi satu dengan lainnya termasuk lawan politik di masa-masa kampanye pilkada sehingga bukan hanya pilkadanya yang sukses namun keselamatan masyarakat juga dapat dijaga dan tetaplah memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Baca Juga : Duel Petahana Pilkada Bitung Ibarat Atmosfir El Clasico

Kini para calon dan pasangannya telah siap berkompetisi maka dengan itu hindarilah kampanye hitam, sogok-menyogok, menghujat dan saling menjatuhkan dengan melihat masa lalu kelam para kompetitor lain namun berkompetisilah dengan gentle secara manusiawi yang penuh kasih dan damain (bdc).

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *