HEADLINE NEWS

Iklan

Renungan Kristen: 1 Samuel 16:6-7 [Tuhan Memilih Hati]

By On 13.17

Ilustrasi gambar by reenablack pixabay


Bidikdotcom - Kemapuan manusia terbatas, ia tidak mampu menyelami  isi hati seseorang manuasia hanya mampu menilai apa yang nampak dari luar saja, hal inilah kemudian membuat seseorang sering salah menilai dan mengambil keputusan.


Ketika Samuel melihat Eliab, ia berpikir Eliab adalah seorang yang tepat sebab anak Ishak yang satu ini memiliki paras berwibawa dan perawakannya yang tinggi.

Baca Juga: Renungan Kristen : Ajaran Seorang Ibu Kepada Raja Lemuel

Namun Samuel salah Eliab bukanlah orang yang dipilih Tuhan untuk menjadi raja atas Israel tetapi Tuhan melihat hati, sebab tidak ada yang bisa disembunyikan di hadapan Tuhan Ia mengetahui kedalaman isi hati manusia.


Cara pandang manusia dalam menentukan pilihan sangat berbeda bahkan bertentangan dengan penglihatan Allah.


Manusia hanya mampu melihat dari sisi luar saja sementara Tuhan melihat jauh ke dalam dan ke depan yakni hati manusia.

Pilihan Allah melebihi pertimbangan manusia sedangkan manusia hanya dapat memahami pilihan Allah jika dimulai dari pandangan Iman.


Inilah yang menjadi alasan bacaan hari ini 1 Samuel 16:6-7 dimana seorang Samuel takalah melihat postur tubuh Eliab yang tegap dan tampan sehingga terlintas dibenaknya bahwa orang yang berdiri dihadapannya adalah yang di pilih Tuhan,


Tetapi Firman Tuhan kepada Samuel  "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."


Samuel pun mengurung niatnya untuk mengurapi Eliab yang pada akhirnya Daud-lah yang diurapinya memimpin bangsa Israel.


Melalui bacaan ini setiap anggota keluarga diajak untuk tidak menilai orang lain berdasarkan tampilan luarnya dan tidak membeda-bedakan orang hanya karena perawakannya.


Belum tentu apa yang terlihat oleh mata sama dengan apa yang ada di dalam hati.


Tinggal tiga minggu warga Gmim akan melaksanakan pemilihan pelayan khusus tepatnya pada 15 Oktober dan 17 Oktober 2021 sebagaimana BPMS mengeluarkan jadwal pemilihan tersebut.

Baca Juga: Renungan Kristen: Bertobat Lebih Mulia Dari Pada Mepersembahkan Korban Syukur

Maka kita pun diingatkan untuk tidak hanya melihat penampilan lahiriah yang melekat dalam diri seseorang seperti harta, gelar dan jabatan serta status sosialnya. Tetapi bagaimana seseorang tersebut memiliki sikap hidup yang terus meneladani baik sebagai pribadinya maupun keluarga jemaat serta masyarakat. Amin


deny/BDC

Renungan Kristen : Ajaran Seorang Ibu Kepada Raja Lemuel

By On 20.26

 

Ilustrasi gambar pixabay 

Bacaan Amsal 31 : 1-9 

Bidikdotcom - Ibu dan Bapak diharapkan untuk selalu peduli terhadap masa depan anak-anaknya.  Kepedulian yang ditunjukkan dalam berbagai bentuk, antara lain, dengan menanamkan nasihat bijak (dan bajik) melalui cara yang tak pernah terlupakan oleh sang anak.  


"Apa yang akan kukatakan, anakku, anak kandungku, anak nazarku"(ayat 2)


Kalimat awal kitab Amsal khusus ayat 2 ini menyiratkan bagaimana peran orang tua untuk lebih awal mengingatkan para anak-anak agar tidak terjerumus kepada hal-hal yan berhubungan dengan dosa dan kejahatan.


Pemberian nasihat yang sedemikian rupa sehingga tak kunjung luntur, sekalipun sang anak telah menjadi “orang besar”.  


Dan kita semua tahu bahwa nasihat yang tertanam kuat adalah yang disampaikan secara ampuh yakni yang terintegrasi dengan action atau tindakan nyata.  


Ibunda Raja Lemuel dari Masa pernah memperingatkan anaknya untuk menghindari kesenangan duniawi yang berlebihan sambil mendorong kepedulian anaknya itu terhadap hak-hak orang tertindas. 


Terdengar sederhana namun tentu begitu berkesan dan penting bagi Lemuel sehingga diangkat dalam dalam kitab pengamsal.  Memang benar bahwa cenderung mudah untuk mengucapkan dan menyampaikan suatu pengajaran kepada anak-anak, namun pertanyaannya, sejauh mana kita menghayati dan mengaminkan apa yang kita ajarkan itu?  


Tak jarang anak-anak pun “menilai” dan mempertanyakan tindakan orangtua yang didapatkannya berseberangan dengan perkataan yang pernah terucapkan.  Tak jarang pula anak menemukan “batu sandungan” karena yang paling diharapkan keteladanannya justru menyedihkannya.  


Sebaliknya, anak yang tanggap terhadap kasih sayang serta patuh terhadap nasihat orang tua akan “diluruskan” jalannya menuju apa yang dicita-citakan.  Kunci dari semua itu adalah kasih sayang yang hidup, yang tak akan berkesudahan karena sumbernya adalah Allah sendiri dalam Yesus Kristus.  Terpujilah Dia.


BDC

Renungan Kristen: Bacaan Yeheskiel 31 : 1-18

By On 21.39

 

Ilustrasi Gambar bidikdot

Bidikdotcom - Di dalam kasih-Nya, Tuhan memperingatkan anak manusia agar tidak congkak, semata-mata karena hal itu tidak akan pernah membawa kebaikan, sampai kapan pun.  


Sesungguhnya dengan meninggikan diri, kita tengah memberikan kesempatan kepada iblis untuk “mengambil alih” roda kehidupan kita, sehingga tak jelas lagi di manakah suatu batas berada ... di manakah batas suatu kepuasan?  “... sebab mereka semuanya telah diserahkan ke dalam maut, ke dalam bumi yang paling bawah” (Yeh. 14b).  


Baiklah kita terus berhati-hati dan jangan sampai terjebak ke dalam muslihat iblis.  Seorang yang arif pernah memohon kepada Tuhan agar dijauhkan dari segala kilauan harta dunia apabila itu hanya akan membuatnya hilang keseimbangan diri, dan menjadi tidak lagi peka terhadap kata hati nuraninya. 


Bagaimanapun, hanya dengan kemurnian hati nurani, seseorang akan senantiasa tertuntun pada koridor yang benar, di mana suara Tuhan pun terdengar jernih serta “make sense”.  


Kepekaan tersebut sangat berharga, melaluinya seseorang dimampukan untuk merasakan kesusahan orang lain, untuk kemudian menyentuhnya melalui suatu perwujudan kasih sebagaimana Kristus yang dalam kesengsaraan-Nya telah turut merasakan penderitaan anak manusia, semata-mata karena kasih.


Bacaan Yeheskiel hari ini mempertegas bahwa umat Israel jangan hidup penuh dengan kemegahan diri, kesombongan karena kelak Allah akan menurunkan dia ada bersama-sama dengan dunia orang mati yang tak akan pernah kembali lagi.


Jaman modern ini juga menuntut umat manusia untuk tetap hidup dalam kerendahan diri menghargai satu dengan yang lain tanpa memandang latar belakang berbeda apalgi dunia masih dalam berperang melawan Covid-19.


Saling bantu memberi keselamatan, peduli lewat mengingatakan setiap kebijaksanaan pemerintah dalam menerapkan protokol kesehatan harus ditaati setiap warga gereja yang juga bagian dari masyarakat merupakan upaya menciptakan hidup jauh dari kesombongan dan kencokakan.


BDC

Renungan Kristen: Bahan Khotbah Minggu Sengsara Ke-5 Yeheskiel 33 : 1-33

By On 15.27

 

Gambar Ilustrasi


Saudara-saudara, yang Kekasih didalam Yesus Kristus


Kita semua tidak menghendaki datangnya berita buruk. Apalagi berita itu bersangkut paut dengan kehidupan kita. 


Semua kita tentulah menghendaki berita baik, karena sesungguhnya kita menghendaki kebaikan selalu mengiringi langkah hidup ini.


Orang Israel pernah didatangi oleh berita buruk. Suatu nubuatan yang dibawa Nabi Yehezkiel kepada mereka. 


Nubuatan yang diterima amat langsung berhubungan dengan keadaan mereka. 


Berita ini datang dari Tuhan dan diperdengarkan ketika mereka sedang mengalami keadaan yang buruk. 


Mereka mengalami penghukuman Tuhan; sebagian diangkut ke tempat pembuangan di Babel, 


sebagian  tetap tinggal di Israel. Nabi Yehezkiel, termasuk yang dibuang ke Babel. 


Apakah pembuangan dapat “menyadarkan” mereka?  Rupa-rupanya tidak! Mereka yang terisisa di Yerusalem, 


justeru merasa layak menempati lagi tanah Israel karena Abraham sendiri, yang seorang diri, 


diberi kesempatan tinggal di tempat yang luas begitu, apalagi mereka? 


Jadinya mereka merasa ”berhak” atas sesuatu yang sudah bukan milik mereka. 


Sementara tinggal, berbagai macam dosa dilakukan. Antaranya, mencondongkan hati pada berhala-berhala serta mengikuti gaya kehidupan kafir. 


Moralitas mereka juga ambruk, orang seenaknya mengambil yang bukan isterinya, mengandalkan ”pedang” dalam penyelesaian masalah dsb. 


Akibatnya Tuhan masih akan mendatangkan hukuman! Bila Ia menghukum maka tidak ada perlindungan yang cukup kuat menahan penghukuman itu. Bahkan yang coba-coba berlindung di gua-pun tidak akan luput. 


Bagaimana dengan orang-orang yang diangkut ke Babel bersama Yehezkiel. 


Orang Israel di sana sama saja! Penghukuman belum mendekatkan hati mereka kepada Tuhan Allah. 


Firman yang diberitakan oleh nabi, seakan dianggap angin lalu saja. Benar bahwa mereka suka memperbincangkan Yehezkiel, 


juga senang dengan pemberitaannya, namun, semua itu hanya sekedar dianggap ”hiburan telinga” saja. Ay 32 berkata: Sungguh, 


engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; 


mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya.


Bacaan ini memberikan kita pedoman kepada siapa hidup selalu mesti dicondongkan, yakni kepada Tuhan. 


Nyata dari firman dalam ay 29: ”Dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan...” Keadaan boleh berubah, dunia boleh berkembang, 


tapi Dia tetap Tuhan.  Kehidupan Israel mengajarkan kepada kita bahwa keadaan bisa merubah orang, termasuk hal percaya kepada Tuhan.


Kepada kita yang telah percaya kepada Allah di dalam Yesus Kristus, tentunya diajak pula untuk selalu ”peka” 


akan kehadiran-Nya serta kehendak-kehendak-Nya bagi saya dan saudara-saudara. Ini menjadi panggilan supaya kita peduli terhadap ”kepedulian” Tuhan.


Kita mendapati di sini bahwa Tuhan peduli pada kehidupan yang penuh kasih, keadilan serta kritis dengan keadaan di luar kita. 


Lainnya yang tak kalah penting, Ia menghendaki pembaruan hidup yang terus-menerus.


Bila ini dihubungkan dengan penghayatan minggu sengsara Yesus Kristus, 


saya kira yang layak direnungkan adalah apa-apa saja yang belum kita wujudkan selaku orang percaya. 


Hal-hal yang sebenarnya perlu kita tangisi. 


Lukas 23:28 mencatat bagaimana sikap Yesus terhadap orang-orang yang mengikuti Dia ketika Ia memikul salib. Dicatat, 


Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: "Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!


Sambil menghayati Dia yang sengsara bagi saya dan saudara, jelaslah, bahwa kita mesti menangisi diri kita yang ”memikul” berbagai persoalan hidup. 


Kita sedang dan bergumul dengan rupa-rupa keadaan kita sendiri, termasuk wabah penyakit yang tak kunjung berhenti menerpa dunia dan manusia.


Kita juga senantiasa mengjhadapi tekanan-tekanan yang menyulitkan, menggentarkan, menguatirkan tetapi bersama Yesus jika ada dalam kesungguhan maka pasti dan pasti tekanan tersebut mampu kita atasi dengan mudah.


Secara positif, iman percaya kita makin ditantang. Daya juang dan daya kreatif kita diasah. agar ditengah pandemi seperti saat ini kita mampu bertahan.


Pengalamn sulit justeru memberi dampak yang baik, dalam iman dan dalam pengelolaan hidup lihatlah seberapa beruntungnya kita masih bisa beraktivitas, sehat, makan, tidur sementara ditempat lain meringis dengan berbagai penderitaan.


Kenapa orang percaya tetap bertahan hingga hari ini, karena Yesus Kristus ada diseluruh hidup kita walaupun kita ada dalam penghayatan minggu-minggu sengsara menderita pikul Salib


Tetap sesungguhnya kita tidak memikul salib sendiri, sebab Ia selalu hadir menguatkan. 

Matius 11:29-30


”Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. 


Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." Amin)


Penyusun : Pdt.Hesky Manus M.Th


Renungan Kristen: Gembala Yang Mau Berkorban Bagi Domba

By On 10.10

 

ilustrasi gambar seorang gembala Foto iStock

Bacaan Alkitab YEHEZKIEL  34 : 1 – 16 


Bidikdotcom Pada prinsipnya setiap orang (individu) tidak mau di atur, di awasi dan di intervensi, apalagi dalam kaitan dengan Hak Asasi Manusia (HAM) dapat saja hal tersebut dianggap mengekang kebebasan seseorang. 


Setiap orang memiliki hak hidup tersendiri., sebagai manusia dewasa, seseorang ingin mandiri dan bebas dari segala ikatan apapun. 


Namun karena manusia adalah makhluk sosial maka ia tidak dapat “hidup” sendiri. 


Sebagai makhluk sosial manusia saling membutuhkan satu sama lain. 


Apakah itu dalam hal membetuk sebuah keluarga, kerja, kesehatan, keamanan, dan dalam kebutuhan hidup lainnya.


Dengan demikian maka dalam interaksi sosial, setiap individu (manusia) mau tidak mau harus tunduk dan menghargai kaidah-kaidah, norma-norma kehidupan bersama, yang diatur demi kebaikan semua pihak. 


Konsekuensinya maka manusia dapat diatur, di awasi dan di lindungi dari konsekuensi hidup maka manusia akan mencari, memilih dan menunjuk seorang pimpinan (pemimpin). 


Tentunya pemimpin yang dimaksud adalah dari, oleh dan untuk manusia itu, demi menciptakan dan mewujudkan sebuah tatanan hidup yang baik dan sejahtera (contoh: keluarga, kelompok, suku, bangsa dan negara).


Ada dua pengertian “gembala” dalam Alkitab. Pertama, orang yang menggembalakan ternak. 


Kedua, orang yang mengasuh dan membina manusia (pemimpin). Gembala dalam bahasa Ibrani disebut “ro’eh” dan kata Yunaninya “poimen”. 


Asuhan terhadap sesama makhluk/manusia dapat bersifat politik atau juga rohani/spiritual.


Dalam realitas kehidupan bagsa Israel para pemimpin, apakah raja (pemimpin Negara) atau imam/nabi (pemimpin agama/spiritual) sering dikaitkan dengan tugas dan tanggung jawab sebagai “Gembala” (baca: Yeremia 23). 


Gembala adalah pemimpin yang dipercaya karena ia dianggap merupakan “pilihan” Tuhan bagi umat-Nya. Namun kenyataannya tidak semua pemimpin atau gembala dapat menjalankan tugasnya dengan baik. 


Ada pemimpin/gembala yang baik dan bertanggung jawab tetapi ada juga yang tidak baik dan tidak bertanggung jawab.


Melalui pembacaan kita saat ini dari kitab Yehezkiel,


(artinya: Allah menguatkan) pasal 34, bahwa Tuhan Allah sangat prihatin dan marah dengan ulah para gembala. Karena para gembala melalaikan tanggung jawabnya dan hanya mengutamakan kepentingan pribadinya sendiri (ayat 2b) 


dan mencari keuntungan sendiri (ayat 3). Gembala Israel tersebut tidak mau pusing dengan pergumulan umat-Nya (domba-domba) ayat 4 dan 6. 


Akibat dari ulah para gembala tersebut, maka umat-Nya tercerai-berai dan sangat memprihatinkan. 


Atas hal inilah maka nubuat Yehezkiel terjadi ketika bangsa Israel (Yehuda/di Selatan) di angkut dan di buang ke Babel (581 sM), 


demikian juga Bait Allah di bakar dan peralatan/perabotan bait Allah di curi dan diangkut juga ke Babel (587 sM). 


Hal ini terjadi setelah 11 tahun Yehezkiel menyampaikan nubuat dari Tuhan. Para gembala yang walaupun mendengar 


apa yang disampaikan oleh para nabi termasuk Yehezkiel tidak mau bertobat dan introspeksi diri. 


Akhirnya Allah sendiri bertindak sebagai Gembala Agung untuk menyelamatkan dan mengumpulkan 


domba-domba-Nya yang tercerai berai (ayat 11-16). Sedangkan para gembala Israel dihukum dan diberhentikan dari tugas mereka (ayat 10).


Oleh karena itu sebagai orang yang percaya (gereja) kita sangat bersyukur memiliki Allah yang peduli dengan umat-Nya. 


Bahkan ketika  manusia jatuh ke dalam dosa, Ia tidak membiarkannya melainkan Ia datang ke dunia menjumpai manusia bahkan rela berkorban dan dikorbankan demi keselamatan umat manusia. Manusia yang melakukan dosa, 


namun Allah yang menebusnya melalui Putra-Nya yang Tunggal yaitu Yesus Kristus. 


Berkaitan dengan hal tersebut maka di minggu-minggu sengsara ini kita di ajak untuk merenungkan dan menghayati atas segala persembahan dan pengorbanan Yesus Kristus sebagai Gembala Agung  sejati.  


Gembala Agung yang bukan hanya memberi makan (Firman), dan nafas kehidupan  dan spirit (Roh Kudus), namun yang telah menderita dan berkorban bahkan menjadi korban yang hidup agar kita semua diselamatkan-Nya.


Meneladani Tuhan Yesus sebagai gembala yang baik,  maka kita juga diingatkan sebagai gembala, baik itu ditengah keluarga atau pribadi (mengembalakan diri sendiri), 


demikian juga dalam bidang pemerintahan baik dalam jabatan Legislatif maupun Eksekutif (Birokrat),  dan Yudikatif (penegakakan hukum), serta bidang spiritualitas: apakah sebagai : Sym, Pnt, GA dan Pendeta atau pimpinan BIPRA, komisi kerja 


maka kita diingatkan untuk dapat melayani domba-domba-Nya dengan baik dan bertangung jawab (baca: ayat 16). 


Gembala/pemimpin harus memiliki jiwa patriotik yang mau rela berkorban untuk membela dan menyelamatkan umat-Nya 


(domba-domba/jemaat) dari ancaman, kejahatan, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan dari pihak-pihak tertentu. 

Gembala yang baik adalah gembala yang tidak mengutamakan kepentingan pribadi, kelompok, golongan, partai, suku dan ras. 


Gembala yang baik seperti yang diungkapkan dalam Yehezkiel 34 : 16 dan Mazmur 23 : 1 – 6 dan Injil Yohanes 10 : 1 – 21. 


Gembalakanlah kawanan domba Allah dengan penuh kasih dan ketegasan (I Petrus 5 : 1 – 11). 


Akhirnya, apa yang menjadi pertanyaan Yesus kepada Petrus sampai ketiga kalinya dalam Injil Yohanes 21 : 15 – 19:


“Apakah engkau mengasihi Aku ?”. Jika Ya, maka kata Yesus : 

“Gembalakanlah domba-domba-Ku”. Dan jika kita sunggung-sungguh mengasihi dan mau megembalakan domba-domba-Nya, 


Yesus juga bersabda kepada kita : ”Ikutlah Aku” (ayat 19b).  


Maka jadilah teladan yang baik melalui pribadi kita, keluarga, jemaat bahkan bagi masyarakat, 


sehingga nama Tuhan akan dipuji dan dimuliakan senantiasa. Dan jika kita harus menghadapi jalan penderitaan karena Dia, ingatlah bahwa Ia juga berjanji : “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28 : 20b). Amin


Selamat Menghayati Minggu Sengsara Ke-3 : 7 Maret 2021


Penulis : Pdt. Arthur N. Massie

Renungan Kristen: Merdeka Bersama Kristus Tidak Akan Diperhamba Dosa

By On 10.12

 

Ilustrasi by pixabay

Galatia 5 : 1 - 15

Surat Paulus kepada jemaat di Galatia merupakan tulisan yang bisa dibilang keras tetapi  bukan berarti  tulisan yang meluapkan  emosi atas dasar kemarahan terhadap sesuatu permasalahan.tapi justru klaim terhadap sebuah etika kekristenan yang hendak diingatkan pada jemaat


Umat manusia perlu merenungi dan menghayati kemerdekaan yang telah diberikan Kristus agar tidak diperhamba dosa lagi. alamat pemberitaan rrasul diuntukan bagi jemaat mula-mula agar melihat pengorbanan anak Allah sebagai bentuk kasih sayangNya sehingga umat tidak dijerat dengan dosa turunan.


Paulus mengkritisi pergolakan pelayanan yang ada di Galatia terhadap  orang-orang yang mendebatkan tentang firman tetapi justru tidak melaksanakan kehendak firman itu,


Itulah  dasar kritikan Paulus kepada pengacau-pengacau sebagaimana yang disampaikan oleh kitab injil ini sebagai “ragi” yang nantinya bisa mempengaruhi keberimanan umat yang ada di Galatia.


Rasul Paulus hendak meluruskan kepercayaan jemaat yang mulai disusupi oleh pengajar-pengajar palsu sebagai alasan agar jemaat tidak di giring pada pemahaman sesat akibat pemberitaan tidak benar.

Rasul Paulus dengan pernyataan tegasnya menyampaikan sebagaimana dalam kutipan ayat 5 “Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan.” dimaksudkan rasul Paulus disini oleh Roh adalah Roh Kudus yang menyempurnahkan karya keselamatan dari Bapa.


Bukan dari anggapan kebudayaan turun temurun memiliki aturan hakiki seakan-akan itu adalah sudah menjadi aktivitas final dari perjalanan keagamaan umat.


Paulus ingin menegaskan bahwa memelihara adat istiadat/budaya hukum taurat yakni sunat,  bukanlah sebuah kesalahan tetapi jangan menjadikan itu sebuah kopensasi puncak yang pada akhirnya keyakinan Yesus Kristus dalam iman kepercayaan umat makin hilang, ini berbahaya!


Paling utama umat menyadari dan melakukan dalan keseharian hidup adalah pengakuan terhadap kebenaran iman yang menyelamatkan yaitu kemerdekaan yang membebaskan dilakukan oleh Yesus Kristus jangan sampai diabaikan hanya oleh karena sebuah kebiasaan adat serta budaya tadi.


Untuk menjaga agar tidak terciptanya dinding pemisah terhadap ajaran dan keyakinan pada Kristus dari pemahaman iman yang salah, maka  firman Tuhan akan menjadi penuntun sejati bagi umat dan selalu untuk dilakukan dalam nilai tutur kata maupun tindakan.


Sebab Allah telah mendemonstrasikan KasihNYA pada umat lewat pengorbanan anak domba Paskah yaitu Yesus Kristus sehingga umat dilepaskan dari belenggu dosa dan menerima kemerdekaan sesungguhnya sebagai anugerah dari pencipta untuk ciptaanNya.


Maka selayaknya umat pun mendemonstrasikan nilai kemerdekaan Kristus tersebut, bukan sebaliknya menampilkan perbantahan yang pada akhirnya  disesatkan dengan intelektual yang gelap.


Kristus memang telah memerdekakan kita  dan memberi kebebasan,tetapi bukan berarti kita bebas sebebas-bebasnya menurut kemauan kita,tapi justru kita merdeka,bebas “terikat” bersama DIA yang berkuasa bagi dunia dan manusia sehingga hanya Firman Tuhan  menjadi landasan umat untuk hidup menembus dinding penyekat dari pemeliharaan istiadat yang keliru.


Budaya kasih terhadap  penginjilan  masih menjadi sorotan hangat bagi sekeliling kita, 


Ketika kita melakukan penginjilan apapun alasanya, KASIH itu akan menjadi landasan disaat kita melakukan kehendak Tuhan sehingga terciptalah keadilan yang menurut Tuhan bukan ukuran manusia  

       

Kasih sayang juga kepada sesama tidak dipresentasikan sebagai  moment untuk diingat seperti hari ini 14 Februari sering dirayakan sebagai hari kasih sayang sedunia dalam konteks sosial kemanusiaan. sedangkan Kasih Kristus tidak dibatasi dengan menunggu jatuhnya hari spesial setiap tahunnya, tetapi setiap detik jantung mahkluk hidup khususnya manusia kasih sayang Kristus selalu mendampingi tanpa sekat apapun.



Selamat merayakan hari kasih sayang penuh kemerdekaan dari Kristus Yesus supaya umat dan kita sekalian sebagai orang percaya tidak diperhamba dosa lagi baik hari ini sampai selamanya. Amin
Penulis - deny sondoh

Bersama Tuhan "Sengsara" Apapun Yang Dihadapi Pasti Terasa Ringan

By On 07.59

 

Gambar Ilustrasi

Mazmur 9 : 1-21

Kitab Mazmur adalah kitab nyanyian Pujian dari Pemazmur yang menyatakan ungkapan terima kasih dan memuji Tuhan di saat kegalauan hidup menerpanya Pemazmur percaya  pada suatu hari DIA akan membebaskan sepenuhnya mereka yang mencari DIA  dan mendatangkan hukuman atas musuh-musuh-NyasSupaya mencegah kehilangan semangat dan keputusasaan ketika melihat sukses kejahatan dalam dunia, 


Umat Allah harus dengan teguh percaya dan mengaku bahwa Tuhan suatu hari akan membenarkan mereka, kendatipun kesengsaraan, akan mewarnai realita kehidupan   Pemazmur menyadari kekuatan-kekuatan jahat melawan kekuatan-kekuatan kebenaran bukan hanya hadir dari luar saja(orang fasik).


Baca Juga : Renungan Kristen: Bertobat Lebih Mulia Dari Pada Mepersembahkan Korban Syukur


Tetapi juga akan hadir dari dalam kehidupan orang yang menganggap dirinya percaya tetapi tidak taat dan setia kepada Tuhan.


'Dialah yang akan menghakimi dunia dengan keadilan dan mengadili bangsa-bangsa dengan kebenaran" (Mzm 9 : 5)


Keyakinan inilah yang terus di pegang oleh pemazmur yang mana orang yang tertindas, menderita dan sengsara tidak selamanya akan hilang harapan hidup.ingat kesuksesan orang fasik hanya sementara sedangkan akhirnya hanya orang benar yang dapat bertahan.


Panggilan kehidupan sosial, ekonomi yang begitu meningkat pesat  membutuhkan daya ektra besar untuk mengotak atik perencanaan (planing) hidup yang baik, 


Tapi tak jarang pula hal yang demikian menjerumuskan anak manusia pada tindakan-tindakan tidak di kehendaki Tuhan walapun sebagian orang benar masuk perangkap itu.


Belum lagi tekanan-tekanan yang menghimpit kita baik timbul dari dalam keluarga  maupun dari orang yang tidak menyenangi kita sehingga menimbulkan kepiluhan hati yang mendalam.


Sejatinya semua orang berkerinduan untuk hidup saleh dan benar walaupun dalam setiap panggilan hidupnya seperti contoh diatas sering menjadi batu sandungan. 


Berkaca dari pengalaman iman Pemazmur maka sebagai anak-anak Tuhan seberapa pun besarnya kesengsaraan yang yang akan kita jalani pasti suatu saat akan membebaskan kita karena nilai dari itu semua akan memberikan kebahagiaan bagi kita.


Wabah covid-19 hingga hari ini masih memberi ancaman serius bagi keselamatan manusia secara umum dimuka bumi. Segalah usaha pemimpin dunia termasuk di Indonesia menempuh berbagai kebijakan sosial dalam rangka memutus mata rantai penyebaran wabah penyakit berbahaya ini. 


Dengan tetap menerapkan protokol kesehatan menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan di yakini dapat menghentikan laju penyebaran virus corona meskipun upaya ini belum sepenuhnya menjadi jaminan karena pada dasarnya sebaran virus terus meningkat.


Selain itu juga Pemerintah telah melakukan vaksinasi yang dimulai pada 13 Januari lalu untuk memberi kekebalan tubuh bagi seluruh warga Indonesia agar terhindar dari serangan wabah.


Meski semua upaya dilakukan oleh pihak pemerintah untuk memberi rasa aman bagi rakyatnya, perlu mengingat untuk tetap meminta pertolongan Tuhan lewat doa permohonan pengampunan dosa agar semua upaya dilakukan umat di jawab oleh Dia pemilik hidup ini.


Baca Juga : Gmim Betel Pintukota Besar Laksanakan Ibadah Syukur Tulude Dengan Kesederhanaan


Satu keyakinan kita sengasara apapun dihadapi umat,  bila bersama Tuhan pasti akan terasa ringan kerena kita tidak pernah bertindak sendiri Tuhan Yesus memberkati.


Renungan Kristen: Bertobat Lebih Mulia Dari Pada Mepersembahkan Korban Syukur

By On 21.53

 

Ilustrasi by bidikdot


Amos 5:14-17

Firman Tuhan yang datang melalui Nabi Amos mengingatkan bangsa Israel yang mengabaikan perintah Tuhan dengan melakukan berbagai kejahatan.Amos adalah seorang Nabi yang berprofesi sebagai seorang peternak dan juga sebagai pemungut buah ara hutan yang dipanggil dan dipakai Tuhan Allah menyampaikan Firman Tuhan bagi umat Israel.


Amos menyaksikan bahwa Israel telah gagal mempraktekan keadilan bagi sesama bangsanya mereka mempunyai gaya hidup yang mewah, Berpesta pora dan celakanya kekayaan yang mereka peroleh dan kehidupan yang berfoya-foya adalah bersumber dari hasil penindasan pada mereka yang miskin dan lemah.


Atas perilaku orang Israel dan gaya hidup mereka penghukuman Tuhan sepertinya tidak bisa di hindari. Umat Israel  harus menanggung hukuman Tuhan atas segala perbuatan mereka yang tidak adil.


Penghukuman Tuhan akan terjadi seiring dengan kejahatan dan kebobrokan(rusak) moral orang Israel yang tidak lagi menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan dan keadilan.


Tuhan yang memanggil dan mengutus Amos adalah Tuhan yang tidak diam saat umatnya terutama mereka yang miskin dan lemah di perlakukan dengan tidak adil.


Tuhan memakai Amos untuk menyampaikan keprihatinanNYA agar supaya keadilan dalam kehidupan bersama terus di dengar dan dinyatakan.berkaca dari Amos 5:14-17 biarlah kehidupan kita dan keluarga kita menjadi teladan terhadap praktek keadilan sebagai manifestasi (penerapan Iman) yang sungguh kepada DIA pemilik hidup ini.


Fakta hari ini mengatakan manusia tidak lagi melihat kehidupan persekutuan sebagai bentuk nilai hidup dalam pertobatan serta keadilan hidup untuk dipersembahkan kepada sang pemilik hidup yaitu Tuhan Yesus Kristus.  yang penting sudah datang ke gereja memberi persembahan dan sudah di lihat oleh pelayan Tuhan.


Padahal pengakuan yang sungguh-sungguh kepada Tuhan adalah bagian hidup yang tidak dapat di abaikan Nabi Yesaya berkata : "Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku" (Yesaya 1:13)


Perlakuan kebaikan hanya  terjadi dibelakang mimbar atau di tempat-tempat ibadah saja setelah selesai dari itu nilai tersebut sudah tidak terlihat lagi


Sebagai keluarga Kristen tentu kita punya tanggung jawab untuk berbagi kasih sebagaimana pesan firman Tuhan hari ini bagi kita bukan hanya pada keluarga kita tetapi juga bagi semua orang yang membutuhkan uluran tangan saya dan saudara.


Perlu di ingat dan disadari bahwa pentingnya menjaga kekudusan hidup bukan hanya terletak pada sejauh mana keaktifan kita dalam setiap persekutuan ibadah tapi juga seberapa besar respon kita terhadap pengorbanan seorang murid yang juga sebagai hamba (Yesus Kristus) untuk mempraktekan sikap hidup yang baik dan benar ditengah persekutuan yang bersaksi, melayani dan memuliakan DIA.penulis Pnt.M Sondak Malumbot.SH    

Renungan Kristen: Jangan Takut dan Tawar Hati Berdoalah Kepada Tuhanmu Yang Hidup

By On 11.19

 

Ilustrasi gabar pixabay


Yosua 10 : 28-43

Renungan Kristen Ada sederetan pengalaman berIman dari perjalanan sejarah pada pendudukan daerah-daerah dimana telah di rebut oleh Yosua dan orang Israel.mulai dari di robohkannya tembok Yerikho sampai pada kemenangan atas Makeda, Lakhis, Libna, Eglon, Hebron dan Debir semua memiliki cerita yang sama dengan tempat yang berbeda terhadap peperangan  yang boleh di selesaikan dengan hasil akhir yaitu kemenangan.


Fakta unik dan menarik yang boleh disaksikan lewat pembacaan Yosua di sepanjang bulan januari ini yaitu kalimat ”jangan takut”dan ”tawar hati” inilah kalimat yang sering di ungkapkan oleh Tuhan Allah kepada Yosua dan orang-orang israel ketika hendak mempersiapkan diri untuk berperang.


tetapi perlu di ingat  bahwa Yosua dan orang-orang Israel memiliki wahana disaat mereka menghadapi situasi peperangan yang menakutkan yaitu ”DOA”.mulai dari mempersiapkan diri,berjalan,serta dimedan perang wahana Doa ini yang tidak pernah dilupakan oleh Yosua dan 


Orang Israel sehingga Allah mngerti memahami dan menjawab Doa-Doa mereka dengan janji yang memberikan ketegaran Iman ”bukan Yosua dan orang-orang  israel yang berperang tapi Tuhanlah yang berperang terhadap musuh-musuh mereka” (Yos.10:42).


Yosua bersama segenap orang israel telah mengawali kehendak Allah dengan baik dan Allah pula yang mengakiri dengan baik lewat kemenangan demi kemenangan yang mereka gapai sampai mereka kembali ke Gilgal penuh dengan sukacita sambil terus memanjatkan Doa syukur kepada Allah yang hidup.

Perasaan menegangkan disaat kita sedang ada dalam sebuah pergumulan yang berat ditambah lagi posisi kita semakin terjepit maka sikap pasrah menyerah sudah tentu akan menjadi pilihan kita.


ini menunjukkan sikap iman yang mudah goyah terhadap persoalan-persoalan hidup yang kita jalani, padahal kita telah lupa dengan hakim Agung yaitu Yesus Kristus yang setia menemani kita,terkadang ”Doa” adalah hal  yang sering kita lupakan disaat kita sedang besukacita.


Begitu juga dengan kemalangan yang di hadapi terkadang pula ”Doa”menjadi alternatif untuk kita lakukan padahal semata-mata hanya ungkapan sementara supaya dilihat orang kita sedang berdoa atas pergumulan kita ironinya lagi semua dibungkus dengan berbagai kemunafikan (ada maunya) padahal yang sesungguhnya adalah benar-benar komunikasi terjalin dengan baik antara kita dengan DIA.


Lepas dari semuanya itu kita perlu bersungguh-sungguh berdoa kepada Tuhan didalam Yesus Kristus atas segalah petaka yang menimpa tanah air apalagi kita di Sulawesi Utara dimana kemarin 22/1/2021 Kota Manado kembali diguyur hujan lebat dan mengakibatkan banjir sehingga merendam ratusan tempat tinggal warga.


Keluarga adalah lembaga dimana kita melatih diri untuk melakukan doa bersama,sehingga dari keluarga akan lahir  pribadi-pribadi yang berbuah untuk sebuah penginjilan doa dan menjadi jemaat yang taat untuk bersaksi,bersekutu dan melayani  demi kemuliaanNya.


Berefleksi dari firman saat ini kita serahkan perjuangan kita kepada DIA,sambil menjadi pendoa-pendoa kepada sesama termasuk keluarga kita ”jangan takut dan tawar hati”.Imanuel


Penulis-Abdi Ryan






Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *