Kisah Robert Grant dan Kidung Pujian Hai Mari Sembah

 

Edirting gambar bidikdot
bidikdot Istilah “Barat” dalam bahasa Indonesia berarti, mata angin yang berlawanan dengan jurusan timur. Tetapi arti akar kata “Barat” itu ialah negeri India, oleh karena negara besar itu letaknya di sebelah barat kepulauan Indonesia.  
Setidaknya, ada dua keunikan terkait dengan lagu pujian ini.  Pertama, berkenaan dengan penulisnya, yang tidak hanya orang Barat, namun lahir dan meninggal di India. 
Keunikan kedua, pujian ini bukanlah karangan asli yang benar-benar baru. Syairnya sebenarnya merupakan saduran dari kitab Mazmur.  Siapakah yang menyusun saduran Mazmur itu?

ORANG BARAT DI BENUA “BARAT”.  Robert Grant memang seorang Barat menurut arti kata yang biasa.  Tetapi ia pun dilahirkan di negeri “Barat” menurut arti akar kata yang dijelaskan di atas. 
Orang tuanya yang berkebangsaan Skotlandia sedang menetap di India ketika putra mereka dilahirkan pada tahun 1785.  Ayah Robert Grant adalah seorang saudagar dan pegawai pemerintah penjajah di India. Sesudah ia dengan keluarganya pindah kembali ke Skotlandia, ia menjadi seorang anggota Parliament (DPR Inggris Raya). 
Sebagai seorang negarawan ia berusaha menghapus rintangan-rintangan yang menghalangi pengabaran Injil di negeri India.
Jadi, Robert Grant dibesarkan dalam suatu lingkungan yang insaf akan masalah sosial dan politik, yang juga insaf akan keperluan umat manusia untuk menerima kabar Injil. Maka tidaklah mengherankan jika ia sendiri kemudian menjadi seorang negarawan Kristen, sama seperti ayahnya.  
Dalam kariernya yang cukup gemilang, Robert Grant selalu bertindak atas dasar prinsip-prinsip kepercayaan Kristen. Ia banyak berjasa  bagi sesamanya. 
Ia turut memberantas perdagangan budak belian. Ia juga memperjuangkan hak-hak sipil untuk warga negara Inggris keturunan Yahudi, yang pada masa itu masih sering terkena prasangka.  
Selain itu, ia juga menyokong pengiriman utusan-utusan Injil ke India dan negeri-negeri lain.
Seperti ayahnya, Robert Grant juga menjadi seorang anggota DPR Inggris Raya selama bertahun-tahun. Ia juga menjadi seorang saudagar dan pegawai pemerintah penjajah di negeri India. 
Pada tahun 1834 ia bahkan ditunjuk menjadi gubernur kota Bombay. Ia tetap memegang jabatan yang tinggi itu sampai meninggal empat tahun kemudian.   
Setelah ia wafat, suatu pertemuan besar diadakan untuk menghormati  almarhum gubernur itu. Banyak penduduk kota Bombay yang ikut hadir. Juga di kota Dalpoorie didirikan sebuah sekolah tinggi kedokteran yang diberi nama menurut nama dia. 
Sekolah itu dibangun dengan sumbangan dan dana yang diberikan oleh banyak orang, baik kaya maupun miskin karena mereka ingin menyatakan rasa hormat dan syukur atas jasa-jasa Gubernur Grant yang baik hati.
NEGARAWAN MERANGKAP PENGARANG Di tengah-tengah kesibukannya sebagai seorang negarawan dan  pedagang, Robert Grant juga sewaktu-waktu suka mengarang.  
Karangannya tidak begitu banyak dan juga tidak begitu diketahui oleh orang lain pada masa hidupnya. Sesudah meninggal, kakaknya mengumpulkan semua lagu rohani dan syair yang pernah ditulisnya.  Jumlahnya hanya dua belas saja. 
Tulisan-tulisan itu diterbitkan dalam sebuah buku kecil. Dan di antara tulisan yang hanya sedikit  itu terdapatlah satu syair yang kemudian menjadi sebuah lagu pilihan di seluruh dunia.
Pada suatu hari dalam tahun 1833, setahun sebelum ia pindah kembali ke India, negeri kelahirannya, Robert Grant sempat membuka Alkitabnya pada Mazmur 104. 
Dengan bimbingan baris-baris puisi kuno dari seorang pemazmur yang diilhami Allah itu, ia menulis sebuah syair rohani yang baru. (Rupa-rupanya pada saat itu pula Robert  Grant membandingkan isi Alkitab dengan suatu saduran Mazmur 104 yang pernah ditulis pada tahun 1561 oleh William Kethe, seorang Kristen Skotlandia yang mengungsi ke negeri Swis demi kebebasan beragama.)
Ada beberapa syair yang oleh para sarjana dianggap indah dari segi puisi, namun tidaklah demikian dari segi rohani. 
Ada pula beberapa syair yang dianggap indah dari segi rohani, namun tidak demikian dari segi puisi. Keunggulan lagu saduran Mazmur karangan Robert Grant ialah syair itu oleh para sarjana dianggap sangat indah, baik dari segi puisi maupun dari segi rohani. 
Mari kita memerhatikan empat baris pertama dari syair itu dalam  bahasa aslinya:
“O worship the King, all glorious above,
And gratefully sing His wonderful love!
Our Shield and Defender, the Ancient of Days,
Pavilioned in splendor, and girded with praise. “
Jelas, bahwa di samping suku-suku kata terakhir dari keempat baris yang bersanjak itu, ada juga suku-suku kata di tengah-tengah keempat barisnya yang bersajak pula. 
Persajakan yang demikian rumitnya itu diteruskan selama enam bait penuh. Sayang, kebanyakan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia tidak berhasil mencerminkan keindahan puisi dalam bahasa aslinya itu.
Tetapi yang lebih penting dari keelokan syairnya ialah arti rohaninya. Lagu berupa saduran Mazmur karangan Robert Grant itu dipakai oleh umat Kristen di seluruh dunia sebagai sarana untuk menyatukan suara mereka dalam menaikkan puji-pujian kepada Tuhan Allah.
DARI KELUARGA SEORANG TUKANG RODA.  Lagu yang selalu diterapkan pada syair rohani karangan Robert Grant itu, bukan berasal dari negeri Inggris ataupun dari negeri “Barat”(India), melainkan dari Austria.  
Lebih dari dua setengah abad yang lalu, ada dua anak laki-laki berkebangsaan Austria yang tinggal di desa Rohrau.  Ayah mereka menjadi tukang roda dan gerobak di desa itu. Franz Josef Haydn lahir pada tahun 1732 dan adiknya Johann Michael Haydn lahir pada tahun 1737.
Kedua anak kakak-beradik itu senang sekali tiap kali keluarga mereka berkumpul untuk bernyanyi bersama-sama. Ayah mereka bukan hanya ahli dalam membuat roda dan as gerobak; ia juga mahir bermain harpa (sebangsa kecapi). 
Pada waktu ia memetik tali-tali harpa itu, seluruh keluarganya — ayah, ibu, dan dua belas anak — suka menyanyikan lagu-lagu rohani dan lagu-lagu daerah Austria. Mereka sudah biasa melakukan kegiatan itu tiap malam dan juga pada hari Minggu. 
Sebagai anak-anak, baik Franz Josef maupun Johann Michael mempunyai suara sopran yang tinggi dan merdu. Ketika si kakak itu berumur dua belas tahun, ia ditunjuk menjadi anggota dari sebuah paduan suara yang terkenal, khusus untuk anak-anak laki-laki. Mereka sering menyanyikan puji-pujian dalam kebaktian di ibu kota Wina, yang dihadiri oleh sang raja dan ratu. 
 Beberapa tahun kemudian, ketika suara Franz Josef mulai berubah dan turun, adiknya Johann Michael menggantikan tempatnya dalam paduan suara putra itu. (Cukup menarik bahwa paduan suara anak laki-laki yang terkenal dari kota Wina itu masih tetap diteruskan hingga kini, dan bahkan pernah sempat membawakan konser di Jakarta.)
“SEMUANYA DEMI MEMPERMULIAKAN ALLAH”
Kedua pemuda yang suka menyanyi itu kemudian juga belajar bermain biola, piano, dan organ. Keduanya rajin menciptakan musik, terutama musik rohani, yang menjadi populer sekali pada abad yang ke-18. 
Keduanya menjadi pemimpin orkes yang besar dan koor gereja yang terkenal. Keduanya pun menjadi guru bagi seniman-seniman musik lainnya yang ternama.
Keduanya adalah orang-orang Kristen yang saleh. Mereka selalu bersikap rendah hati atas bakat-bakat yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan. Franz Josef Haydn suka menulis dalam bahasa Latin pada sebelah atas tiap naskah karangannya: “In Nomine Domini” (Dalam Nama Tuhan). 
Pada akhir musik ciptaannya itu ia menulis: “taus Deo” (Puji Allah), atau “Soli Deo Gloria” (Hanya demi Kemuliaan Allah). Dan Johann Michael Haydn selalu mengakhiri naskah musiknya dengan menulis: “Omnia ad Majorem Dei Gloriam” (Semuanya demi Mempermuliakan Allah”).
Anehnya, hanya satu di antara kedua orang itu yang masih terkenal hingga kini. Banyak karangan Franz Josef Haydn yang masih dimainkan dan dinyanyikan sampai sekarang. 
Riwayat hidupnya yang lengkap itu mudah didapat dalam buku-buku sejarah musik karena ia masih dihormati sebagai salah seorang komponis yang terbesar sepanjang abad. 
Tetapi hampir semua dari 360 gubahan musik hasil karya Johann Michael Haydn, walau oleh kakaknya dianggap jauh lebih bagus daripada musik karangannya sendiri, sudah dilupakan pada abad ini.
Tidak seorang pun dapat mengetahuinya dengan pasti, yang manakah di antara kedua bersaudara yang berbakat itu yang menulis musik yang sekarang biasa dinyanyikan dengan “Lagu Berupa Saduran Mazmur” karangan Robert Grant. Ada ahli sejarah musik yang mengatakan Franz Josef Haydn, kakak yang ternama itu. Tetapi mungkin ada lebih banyak sarjana yang mengatakan Johann Michael Haydn, sang adik yang hampir  dilupakan itu.
Rupa-rupanya lagu itu tidak dikarang sebagai nyanyian pujian. Ada seseorang yang pernah mengambilnya dari suatu kumpulan musik karangan Haydn (salah seorang di antara dua bersaudara itu) dan menggubahnya sehingga cocok diterapkan pada syair rohani. 
Pada tahun 1818, setelah Haydn bersaudara meninggal, lagu itu muncul dalam  sebuah buku nyanyian pujian di Amerika Serikat.
Itulah sebabnya, sering ada tanda tanya dalam kurung yang dicetak di belakang nama pengarang musik untuk “Lagu Berupa Saduran Mazmur”. 
Tidaklah dapat dipastikan, apakah pengarangnya itu Franz Josef Haydn (1732-1809) ataukah Johann Michael Haydn (1737-1806).  Tidak mengapa. Bukankah kedua-duanya ingin supaya semua hasil karya mereka itu hanya digunakan demi kemuliaan Tuhan ?
Sumber: Riwayat Lagu Pilihan dari Nyanyian Pujian (H. L. Cermat)

(deny)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *