Opini  

Benarkah Tanpa Komunikasi Anda Akan Berjalan Sendirian?

Ilustrasi gambar FDP

Bidikdotcom Berangkat dari teori Multiple Intelligence, Howard Gardner dari Universitas Harvard menemukan bahwa seorang pemimpin memiliki “lingustic intelligence” (kecerdasan berbahasa). 

Artinya, seorang pemimpin dapat memakai bahasa, baik dengan kata-kata maupun tulisan, untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Memang tidak semua  pemimpin memiliki tingkat kecerdasan yang sama. Namun, kecakapan dalam berkomunikasi bisa diperoleh melalui proses belajar.

Winston Churchill memenangkan perang melawan tirani Jerman melalui proses komunikasi dengan rakyatnya. Satu hal yang tidak banyak diketahui orang tentang orator yang hebat ini adalah ternyata Churchill mengidap cacat bicara yang cukup parah pada masa kecilnya. 

Alih-alih menyebabkan patah semangat dan minder, Churchill justru mulai mempelajari Shakespeare dan Alkitab bahasa Inggris, King James  Version, dengan sungguh-sungguh.

Kisah Churchill menunjukkan betapa seorang pemimpin harus terus belajar berkomunikasi. Kunci keberhasilan seorang pemimpin dalam berkomunikasi adalah kejernihan pikiran dan kejelasan akan apa yang hendak disampaikan, bukan sekadar kalimat-kalimat indah yang tak jelas maknanya. 

Satu contoh yang dapat kita lihat, saat berkhotbah di bukit, Yesus menggunakan bahasa yang sederhana. Namun ketika  berbicara dengan Nikodemus, seseorang yang terpelajar, Ia menggunakan bahasa yang filosofis.

Bagi seorang pemimpin Kristen, kualitas komunikasi dengan Tuhan berperan penting dalam komunikasinya dengan sesama. 

Semakin dalam komunikasinya dengan Tuhan, semakin ia memahami apa yang Tuhan ingin ia perbuat terhadap diri, sesama, dan lingkungannya. 

Bila komunikasi dengan Sang Pencipta tidak berjalan lancar dan baik, komunikasi dengan sesama menjadi tidak efektif karena ia tidak bisa memahami  sesamanya. 

Banyak masalah yang disebabkan kegagalan seseorang dalam  berkomunikasi. Kesuksesan kepemimpinan, pekerjaan, dan hubungan-hubungan pribadi Anda sangat tergantung pada kemampuan Anda berkomunikasi. 

Orang takkan mengikuti Anda jika mereka tidak tahu apa yang Anda inginkan atau ke mana tujuan Anda. 

Anda dapat menjadi komunikator yang lebih efektif jika mengikuti empat kebenaran dasar berikut ini:


Sederhanakanlah Pesan Anda.  Komunikasi bukanlah sekadar soal apa yang Anda ucapkan, melainkan juga bagaimana Anda mengucapkannya. Kunci komunikasi yang efektif adalah kesederhanaan. 

Lupakanlah upaya mengesankan orang lain dengan kata-kata atau kalimat-kalimat yang canggih. Jika Anda ingin membina hubungan dengan sesama, utamakanlah kesederhanaan. Napoleon Bonaparte selalu mengatakan kepada para sekretarisnya, “Ayo yang jelas, yang jelas”.  

Seorang eksekutif junior diundang untuk berbicara kepada orang banyak untuk pertama kalinya. Maka, ia pun mendekati pembimbingnya untuk meminta nasihat tentang berpidato yang baik.  

Kata pembimbingnya, “Siapkanlah pembukaan yang bersemangat, yang akan menarik perhatian seluruh hadirin. Lalu siapkanlah rangkuman serta penutupan yang dramatis, yang akan membuat orang jadi ingin bertindak. Lalu janganlah bertele-tele di tengah-tengahnya.”

Pandanglah Lawan Bicara Anda.  Komunikator yang ulung berfokus pada lawan bicaranya. Mereka tahu bahwa tidak mungkin berkomunikasi dengan efektif kepada hadirin tanpa mengetahui apa pun menyangkut mereka.  

Sementara Anda berkomunikasi dengan orang — entah secara individu atau secara kelompok — tanyakanlah pertanyaan-pertanyaan ini kepada diri sendiri. Siapakah pendengar     saya?  Apakah pertanyaan-pertanyaan mereka?  Apakah yang perlu dicapai?  

Dan berapa banyakkah waktu yang saya miliki?  Jika Anda ingin menjadi komunikator yang lebih baik, berorientasilah pada pendengar. Orang mempercayai komunikator ulung karena komunikator ulung itu pun mempercayai orang.

Tunjukkanlah Kebenaran.  Kredibilitas mendahului komunikasi yang hebat. Ada dua cara untuk menyampaikan kredibilitas kepada pendengar Anda. 

Pertama, percayalah kepada apa yang Anda ucapkan. Orang biasa akan menjadi komunikator ulung jika memiliki semangat keyakinan yang tinggi.  Jendral Lapangan Ferdinand Foch berkata, “Senjata yang paling ampuh di bumi adalah jiwa manusia yang berkobar-kobar.” 

Kedua,     amalkanlah ucapan Anda. Tak ada kredibilitas yang lebih besar ketimbang keyakinan pada tindakan.

Tariklah Respons. Sementara Anda berkomunikasi, janganlah pernah lupa bahwa sasaran dari komunikasi adalah tindakan. Jika Anda melemparkan sejumlah informasi kepada orang lain, 

Anda bukan sedang berkomunikasi. Setiap kali Anda berbicara kepada orang lain, berilah mereka sesuatu untuk dirasakan, diingat, dan dilakukan. Anda pasti bisa.

Dari keseluruhan tulisan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa benar manusia tanpa komunikasi  ia seperti hidup seorang diri dan jauh dari interaksi bahkan terlihat seluruh aktivitas hidupnya mati. 

Jadi mari menjadi orang yang terbuka dengan menciptakan komunikasi toleran antar sesama ditengah kepelbagaian keragaman apalagi kepada Dia sang pencipta hidup dunia dan manusia.

Catatan ini disadur dari Penulis Jhon C. Maxwell dalam buku 21 Kualitas Kepemimpinan Sejati 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *