Baja Nasional Kalah Saing Baja Tiongkok

Baja Nasional Kalah Saing Baja Tiongkok Photo Ilustrasi 

Bidikdot.com Infrastruktur merupakan strategi percepatan pembangunan secara menyeluruh terhadap kaitannya dengan kesejahteraan rakyat. terhubungnya infrastruktur yang berkelanjutan dari daerah satu sampai kedaerah yang lain merupakan nilai positif terhadap perkembangan zaman
yang semakin menuntut manusianya bersaing dalam perkembangan itu.

Pemerintah dipimpin Presiden Joko Widodo mengejar target pembangunan infrastruktur merupakan program unggulan di masa pemerintahan periode pertama.harus diakui motivasi membangun ini bisa dibilang berhasil.

Dimasa pemerintahan Joko Widodo MRT di Indonesia dapat di bangun bahkan masyarakat yang duluhnya pernah terisolir kini bisa terhubung antar masyarakat lain lewat pembangunan jalan yang luas antar daerah.

Namun demikian sejauh mana keuntungan moral serta moril yang didapati oleh produk buatan sendiri terhadap pembangunan yang terus dipacu khususnya Infrastruktur.

Infrastruktur berjalan tanpa ada aral namun bahan-bahan dasar dari pembangunan tersebut bukanlah prodakan anak bangsa hampir dibilang semua bahan bangunan infrastruktur adalah hasil Import dari luar negeri yaitu Tiongkok.

Benar Tiongkok menguasai separuh bahan-bahan bangunan Infrastruktur khususnya penggunaan baja.Baja Nasional dibuat merana akibat dominasi Baja Tiongkok.

Pakar sekaligus peneliti BUMN Said Didu mengatakan benar Infrastruktur berjalan dengan baik tetapi tidak terlalu menguntungkan produk dalam negeri khususnya penggunaan Baja.

Didu mengatakan Bahwa para pengelolah tidak mencantumkan perusahaan Krakatau Steel selaku pemasok bahan bangunan di tanah air untuk digunakan dalam pembangunan “cek saja tidak ada nama produk Krakatau Steel dalam pembangunan itu semuanya dikuasai China”ungkap Didu sebagaimana
di lansir dari Tim Telusur tv one.

Said Didu mengatakan tidak terlalu berdampak positif hasil pembangunan infrastruktur terhadap tingginya persaingan Baja milik bangsa. kontruksi bangunan dikuasai Tiongkok mulai dari semen, dan yang lainnya merupakan hasil import.

Memang Tiongkok merupakan sala satu negara yang menjalin kerjasama dengan Indonesia namun bukan berarti hasil karya anak bangsa terabaikan justru terjalinnya kerjasama antar sesama bangsa memberi peluang produk dalam negeri dapat mengambil bagian dalam pembangunan secara menyeluruh bahkan mendominasi terhadap permintaan pasar global.

Semoga di kepemimpinan periode kedua Jokowi-Ma’aruf hal yang telah disampaikan diatas terhadap produk anak bangsa lebih diperhatikan walaupun resiko timbal balik harus dihadapi memang benar tidak ada yang gratisan jika makan dirumah makan tetapi nilai lokal nasional tidak dapat
dikesampingkan juga demi mewujudkan negara kuat terhadap persaingan baik dalam maupun luar negeri.(bd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *