Food  

Kuah Sasi Sup Ikan Bakar Berkhasiat Asal Nusa Utara Mulai di Lupakan

Clear Fish Soup (kuah shasi) asal Nusa Utara mulai terhilang photo : bidikdotcom

Bidikdot.com Bagi warga Nusa Utara sajian satu ini tidak asing lagi sebab kuliner warisan turun temurun dari nenek moyang terus terjaga sampai hari ini. Kua Shasi atau sup ikan bakar merupakan makanan pilihan untuk bersantai dan cukup sederhana penyajiannya mengingat bahan-bahannya muda didapat disekitar tempat kita tinggal.

Konon kabarnya sup berkuah ikan bakar ini menjadi favorit bagi para raja jaman dulu di wilayah kerajaan Nusa Utara usai mereka selesai bersantai atau bepergian. ramuan sup ikan bakar ini dapat dibilang cukup simple untuk dibuat sehingga tidak perlu butuh energi mencari bahannya.

Kua Sashi berasal dari bahasa Sangihe yang berarti kua air laut, shasi (air laut) karena pulau sangihe memiliki bentangan alam pesisir pantai yang cukup luas maka air laut menjadi sala satu organ kehidupan masyarakat jaman dulu baik dibuat obat-obatan maupun makanan.

Baca Juga : Usaha Kuliner Indonesia Industri Terbesar Setelah Dunia Otomotif

Sup berkuah ikan bakar ini diyakini dapat menghilangkan beberapa penyakit seperti influensa, kaki kesemutan (keram-keram) sakit kepala dan demam itu menurut cerita para tua-tua yang bisa bertahan hidup hingga seratus tahun dibeberapa kampung Sangihe dan terwaris sampai kegenerasi saat ini.

Kuliner satu ini diakui kurang mendapat sentuhan publikasi dari para pecinta kuliner tanah air maupun pihak pers karena mungkin dianggap sebagai makanan biasa-biasa saja padahal memiliki history yang cukup panjang.

Makanan berkuah ini sering disajikan dalam persiapan acara-acara adat pada jamannya dan sampai hari ini masih terlihat meskipun sudah tak mendapat tempat dimeja-meja saji makanan utama.

Kua Shasi merupakan perpaduan bahan fresh yang dibakar dengan rasa asin alami dari air laut sehingga menjadi istimewah saat disantap dalam keadaan panas. namun untuk saat ini karena air laut telah menjadi sarana limba yang tidak bertanggung jawab maka diganti dengan air putih biasa.

Bahan-bahan untuk membuat sup ikan bakar ini terdiri dari bawang merah, rica,tomat dibakar dan daun mint (selasi) bersama dengan perasan air jeruk limau. ikan yang di pilih adalah ikan karang atau disebut dengan ikan batu sebab akan menambah rasa kuat dari sup tersebut.

Tidak ada alasan mendasar dipilihnya ikan karang hanya saja menurut storinya ikan satu ini diyakini memiliki khasiat cukup tinggi dari ikan biasanya. namun sekarang ikan apa saja bisa digunakan untuk bahan pembuatan kua shasi tersebut.

Waktu terus berjalan dengan menggeser sedikit demi sedikit peradaban jaman kuno memasuki era baru masyarakat Sangihe yang terbuka. namun tidak membuat kuliner aslinya ikut bergeser total bahkan sampai hari ini masyarakatnya masih mempertahankan keorisinilan sala satu peninggalan jaman dulu seperti Sagu (humbia), ikan hiu dikeringkan (bahise) dan lainnya.

Meski diakui saat ini makan berkuah ini jarang mendapat tempat lagi karena perkembangan kuliner yang begitu pesat dan modern bahkan di Sangihe pun seperti di Kota Tahuna jarang masyarakatnya membuat makanan kekhasan warga Nusa Utara akibat pergeseran nilai budaya. berikut cara membuat  Kuah Shasi sederhana :

Bahan : Ikan Karang, Tomat, Rica, Bawang Merah, Jeruk Ikan, Air dan Daun Mint
Cara membuat :

  • Rebus air sampai mendidih
  • Bakar Ikan sampai matang
  • Bakar Tomat, Rica dan Bawang Merah
  • Potong halus Daun Mint
  • Bila semua bahan di bakar telah selesai campurkan dengan air mendidih 
  • kemudian beri perasan air jeruk dan di beri rasa garam
  • Taruh didalam kuah yang telah dicampur tadi dan siap disantap
  • 3 liter air untuk 1 kg ikan kisaran 5 ekor
Itulah bagaimana cara membuat Kuah Shasi secara sederhana dengan bahan yang cukup muda didapat dan apapun alasan kita mengenai asumsi kuliner ini sebagai warga Nusa Utara  patut berbangga karena memiliki warisan kuliner sejak paradaban jaman alamiah  yang terus terwaris sampai hari ini hanya saja perlu dicatat masihkah mendapat tempat kuliner asli ini di persaingan kuliner jaman modern semoga kita masih dapat melestarikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *