Harga Kopra Mulai Beranjak, Petani Tenaga Kami Dihargai

Salasatu gotong royong kerja kelapa oleh warga Pulau Lembeh Photo bidikdotcom

Bidikdotcom Harapan para petani kelapa Sulawesi Utara perlahan mulai terwujud ditengah pandemi covid-19 harga kopra kini mulai beranjak naik didua pekan terakhir ini. sebelumnya harga Kopra khusus Kota Bitung pada Sabtu lalu ada diharga Rp 560.000/100kg tetapi pada sabtu kemarin 18 Juli 2020 ada pada harga Rp 630.000/100kg (het)

Kenaikan harga ini dibenarkan oleh pembeli kopra yang ada di Kota Bitung khususnya di Pulau Lembeh sebab bila melihat harga kopra pada tiga bulan belakangan ini sangat memiriskan sehingga membuat para petani kelapa kurang bersemangat untuk memanen hasil kelapa.

Baca Juga : Pulau Lembeh Panen Cengkih Di Tengah Pandemi CV19

Pak Boy salasatu pembeli Kopra di Pulau Lembeh mengatakan memang benar para petani kelapa di Lembeh sangat kecewa dengan harga kopra saat ini sehingga warga Lembeh lebih memilih membudidayakan tanaman pala dan cengkih ketimbang memanen hasil kelapa.

“Dorang petani kecewa dengan harga kopra waktu lalu, namun setelah kopra saat ini naik dorang bilang tenaga mereka dihargai” kutip pak Boy. Dengan mulai melonjaknya harga kopra maka membawa angin segar bagi para petani kelapa untuk semangat dan giat mengurus tanaman mereka dan ini sedikit menghibur warga Lembeh.

Menurut informasi sebagian para pemilik kebun kelapa di Pulau Lembeh ini bahwa sudah tiga bulan mereka membiarkan kelapa mereka padahal sudah waktunya untuk dipanen bahkan ada dari buah kelapa yang dibiarkan sudah bertunas.

Memanen kelapa memiliki resiko dengan bahaya cukup tinggi sehingga beralasan bagi petani untuk membiarkan buah kelapa mereka tidak dipanen sebab tidak menutupi biaya panen saat bekerja jika harga kopra mampet.

Sangat disayangkan memang pohon kelapa yang memiliki berbagai nilai ekonomis sementara harga buahnya bila dipanen mengecewakan dan ini memberikan dampak kekecewaan mendalam bagi para petani kopra saat ini

Saya mencoba bertanya kepada salasatu pemilik kebun kelapa di Kelurahan Pintukota Pak Yopi kenapa buah kelapa tidak dipanen padahal harganya mulai ada perubahan ia katakan “lebe bae urus cingkeh deng pala dari pada kelapa depe harga nyanda berubah-rubah” ungkap Pak Yopi.

Ungkapan-ungkapan seperti dikutip diatas menunjukan betapa kecewanya masyarakat beberapa waktu lalu harga kopra turun cukup signifikan dan itu memiriskan bagi warga yang hanya menyandarkan hidupnya dengan memanen buah kelapa untuk dijual.

Baca Juga : Tiga Minggu Adaptasi Baru Masker Dan Cuci Tangan Jadi Sorotan

Sehingga kedepannya Pemerintah khususnya di Sulawesi Utara dapat menstabilkan harga kopra agar masyarakat tidak kena imbas yang seharusnya tetap menerima hak-nya sebagai warga negara meskipun sebagai seorang petani.

loading…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *