Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Seperti Apa Rivalitas Suporter Indonesia dan Gengsi Tim Dalam Lapangan Yang Akhirnya Memicu Perselisihan

Selasa, 04 Oktober 2022 | 11:06 WIB Last Updated 2022-10-12T03:23:45Z

 

Salah satu pertandingan Laliga Spanyol yang hening cipta atas kerusuhuan di Kanjuruhan

Bidikdot Sepakbola tanah air sekejap menjadi gelap gulita atas tragedi kemanusiaan yang menimpa suporter saat laga Liga BRI 1 mempertemukan Arema Malang dan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan Malang pada Sabtu malam 1/10/2022.

Kekalahan Arema FC (2-3) dikandang sendiri dari Persebaya Surabaya menjadi pemantik terjadinya konflik dengan aksi protes para suporter yang masuk kedalam stadion.  Tidak menerima kekalahan dari Persebaya pendukung Aremania menyerbu masuk kedalam stadion dan membuat keonaran.

Awalnya aksi hanya dilakukan oleh beberapa orang saja, tetapi tidak tahu kenapa tiba-tiba manusia membludak masuk dalam lapangan.

Petugas pengamanan yang kalah jumlah dari peserta aksi protes tadi kewalahan menangani para suporter yang sudah masuk dalam lapangan.

Dari tayangan vidio channel tv  yang menyiarkan secara live pertandingan tersebut memperlihatkan bagaimana petugas menggunakan gas air mata dibeberapa titik stadion dengan menghindari terjadinya tumpukan suporter meski kenyataannya tidaklah demikian.

Ini adalah sedikit uraian bencana kemanusiaan dalam Stadion Kanjuruhan.

Lantas bagaimana rivalitas antar suporter di sepak bola tanah air.

Suporter merupakan magnet berpengaruh terhadap performa tim saat menjalankan sebuah pertandingan. Tanpa pendukung atau penonton maka tim yang memainkan laga terasa dingin dan tidak ada apa-apanya meski menuai kemenangan.

Pada laga di liga top eropa seperti Premier League, Laliga Satander, Ligue 1 ataupun Liga Champions Eropa sangat terasa rivalitas atau persaingan gengsi terjadi antar pendukung maupun pemain, namun sangat jarang namanya perselisihan meski saling sikut, tendang atau lainnya saat debut laga berjalan.

Demikian juga dengan gengsi tim tidak ada yang saling perang argumen yang sifatnya memprovokasi semua pendukung tim.

Kita bisa melihat laga El Clasico antara Barcelona vs Real Madrid. dibeberapa kesempatan memang terlihat rivalitas kedua tim cukup tinggi dan sering memanas apalagi saat kepelatian Madrid ditangani Jose Maourinho dan Pep Guardiola dari Barca.

dipenghujung laga tidak ada namanya perkelahian apalagi berujung kerusuhan semuanya baik pemain suporter maupun official mampu menahan diri.

Indonesia termasuk salah satu negara pecinta bola sebab melihat ladang bisnis olahraga ini sangat menjanjikan sehingga tidak sedikit televisi berbayar menghadirkan konten berkualitas mereka dengan tayangan sepakbola dari liga-liga bergengsi dunia.

Bila menelisik sebelum terjadinya kerusuhan seharusnya para suporter dan stage holder berhubungan dengan aktivitas ini bisa memetik pelajaran berharga dari liga-liga eropa yang kemungkinan besar menjadi tontonan istimewah diakhir pekan bersama keluarga bagaimana sesungguhnya rivalitas yang dihadirkan para pemain eropa maupun barat bisa menjadi contoh para suporter Indonesia

Kenapa sering terjadinya perselisihan 

Dari beberapa pengalaman di sepakbola warga (+62) "tidak mau menerima kekalahan" sudah menjadi momok buruk yang terus terpelihara dibenak para suporter tetapi juga diantara sesama pemain. Bahkan tuduhan jeleknya kepemimpinan wasit sering menjadi alasan pelampiasan kemarahan pendukung tim jika kalah dan dari pengalaman ini juga tidak sedikit para wasit  menjadi korban pemukulan suporter.

Selanjutnya sering terjadinya perselisihan dalam sebuah pertandingan bola adalah ingatan masa lalu yang sulit dilupakan (perseteruan antar pendukung).

Kita pasti ingat pendukung Persib Bandung yang menjadi korban kebrutalan pendukung jackmania dari tim Persija Jakarta pada beberapa tahun silam. ini bukan pemicu kekalahan tetapi merupakan perasaan masa lalu yang tidak terbalaskan.

Apapun regulasi yang dibuat pemerintah, Polri maupun pihak penyelenggara pertandingan tidak akan ada gunanya jika suporter dan pemain pun tidak punya jiwa sportivitas dan profesionalis.

Dua kata Sportivitas dan Profesional di sepak bola tanah air diakui hingga hari ini masih sangat jauh dari harapan sebab permanisme lebih berkembang ketimbang saling menghargai baik dari yang kalah maupun menang.

Maka dengan itu patut disadari oleh semua elemen masyarakat bahwa apapun judulnya jika sudah menghilangkan nyawa orang dari sebuah pertandingan itu bukan saja tindakan anarkis tetapi sudah menjadi pembantaian kemanusiaan yang seharusnya disadari dengan hati yang tulus.

Kematian 132 penonton di Stadion Kanjuruhan dan ratusan lainnya  yang terluka adalah pelajaran berharga untuk semua masyarakat Indonesia pecinta sikulit bundar bahwa rivalitas suporter dan gensi tim yang tidak memiliki tujuan adalah racun mematikan dari sebuah harapan yang namanya sehat pada tubuh insan penggemar bola.

Bila melihat rangkin FIFA Timnas Sepak bola Indonesia saat ini ada diurutan ke-154 (Juni 2022) kalah 10 poin dari Thailand yang menduduki peringkat 145. Thailand adalah salah satu negara Asia Tenggara paling lambat mengenal sepak bola ketimbang Indonesia sudah mengenal permainan sikulit bundar sejak tahun 1935 saat itu masih dengan Hindia-Belanda.

Negeri Gajah putih mengenal bola kaki pada awal tahun 80-an, tetapi hari ini mereka menjadi negara terdepan di Asia Tenggara dengan sepakbolanya.

Menjadi pertanyaan juga kenapa harus rusuh?

Liga BRI 1 sebelumnya adalah Liga Shopee bukanlah liga paling bagus di dunia apa yang harus dituntut dan di banggakan dari liga semacam ini, tulisan ini tidak mendeskriditkan sepakbola kita,  hanya saja disetiap pergantian regulasi tidak ada sesuatu lebih yang didapat dari akhir kompetisi, padahal hak siar dari liga Indonesia mencapai puluhan bahkan ratusan milyar per-musimnya.

Seharusnya karena bukanlah liga paling bagus di Asia kita perlu menyadari termasuk peran suporter untuk menjadikan produk sendiri bisa bersaing di level dunia bukan sebaliknya membuat kekisruhan.

Prestasi ditorehkan dari sepakbola tanah air pun sangat minim bahkan di sepuluh tahun terakhir timas Indonesia tidak lagi membawa medali. Berbeda dengan dengan Bulu Tangkis, Angkat Besi, Wushu, Atletik, Panahan yang setiap tahunnya mempersembahkan medali emas bagi ibu pertiwi.

Seharusnya kita selaku tifosi sepakbola malu dengan tim yang didukungnya tidak memberikan prestasi bagi bangsa serta negaranya baik diajang nasional maupun global 

Coba dicek seberapa sering jebolan Liga 1 tembus perempat final Liga Champions Asia sangat jarang bahkan kebanyakan hanya sampai pada putaran pertama

Semoga ini menjadi pelajaran terakhir bagi insan bola Indonesia agar terus berbenah dari peristiwa kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan. saatnya bukanlah lagi saling menuding si-ini dan itu salah, karena penggunaan gas air mata, panitia pelaksana lalai menerapkan savety dalam stadion dan lainnya.

Saat ini mari satukan pemahaman stop rivalitas tanpa tujuan, stop pola permainan gaya premanisme dan terus berdoa bahwa mereka yang telah meninggal dunia adalah martir untuk kemajuan bola di tanah air jangan sia-siakan pengorbanan mereka siapa pun pendukung tim-mu.


Salam sportivitasi

×
Berita Terbaru Update